Pencarian
Pemerintah Malaysia , Bertindak Tanpa Memahami Akibatnya
Laporan : Murhan R
Jakarta, Surabayawebs.com
Apa yang terjadi i, atas tindakan pemerintah Malaysia , melakukan penangkapan petugas KKP itu, seharusnya tidak dilakukan. Apalagi mereka sedang tugas membawa kepentngan bangsa Indonesia.
Kalaupun pada saat itu, diselesaikan saat terjadi penangkanpan dengan saling memberi alasan bisa jadi kedua belah pihak damai ditempat dan langsung melaksanakan tugas masing-masing untuk menjaga wilayah territorial bagi kedua belah pihak.
Sebagaimana Liputan6.com, Jakarta: , atas teregedi itu , yang disuarakan oleh Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) mengimbau masyarakat menahan diri menyusul insiden penangkapan tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan oleh polisi Malaysia. HMI menilai sikap berlebihan warga akibat pemerintah yang lembek.
“Sikap lamban dan lembek pemerintah Indonesia terhadap Malaysia telah memancing reaksi spontan dan keras dari warga Indonesia. Sayangnya, reaksi tersebut berlebihan sehingga melemahkan diplomasi kita,” kata Ketua Umum PB HMI Arip Mustopha di Jakarta, Jumat (27/8).Menurut dia, sebagai dua bangsa serumpun, tidak sepatutnya masyarakat Indonesia mengembangkan kebencian kepada Malaysia. Namun lanjut dia, kesalahan disumbangkan lebih banyak oleh pemerintah yang tidak piawai berdiplomasi dan tidak kukuh membela martabat bangsa..
Pesawat Boeing 747 Garuda Indonesia tujuan Jeddah terpaksa kembali ke Soekarno Hatta
Laporan H. Erry Budianto
Jakarta-Surabayawebs.com
Pesawat Boeing 747 Garuda Indonesia GA 980 tujuan Jeddah, Arab Saudi, yang membawa penumpang jemaah Umrah Ramadhan, terpaksa kembali mendarat di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta setelah terbang selama 3 jam di atas Samudera Hindia.
Pesawat GA 980 ini mengalami kerusakan di mesin. Direncanakan akan diperbaiki dan akan kembali terbang pukul 16.45 WIB. Pihak Garuda menyediakan makanana bagi yang tidak berpuasa, dan bagi yang sedang berpuasa, merupakan bagian dari “ngabuburit” sembari menunggu waktu keberangkatan.
2020 ERA GLOBAL TDK MEMBTASI WARGA DUNIA BERINVESTASI
LAPORAN ; MURHAN RAMLY
JAKARTA, SURABAYAWEBS.COM
Penduduk RI, yang berada di semua wilayah nusantara tidak lama lagi akan menjadi bangsa yang membaur dengan warga dunia lainya. Siap atau tidak , sebagaimana kesepakatan antar pemimpin bangsa-bangsa di bumi pelanet ini akan menjadi satu dalam mengurusi berbagai aspek kehidupan.
Yang perlu dipikirkan dari sekarang , bagi generasi pelanjut bangsa Indonesia , apakah kita siap menerima pembauran yang menggelobal itu ?.
Karena pasti akan terjadi dan sudah pernah dikonfromikan melalui suatu pertemuan oleh elit pemimpin dunia pada tahun 1994 . Presiden RI. .H.M.Soeharto ( Jend Purnawirawan ) mengikuti pertemuan itu dan sepakat. Ujar Marzuki Usman ke pada Surabayawebs.com baru-baru ini.
Kata mantan Menteri Pariwisata ini yang pernah menjadi Ketua Umum ISEI, negara sekelas China saja merobah sistemnya dalam mengahadapi pembauran yang mendunia itu.
Dengan sisa 9 tahun lagi, menurut ahli perancang pertumbuhan ekonomi melalui pemamfaatan perkebunan dan lahan pertanian ini , mempertanyakan bagaimana bangsa kita ini agar tidak menjadi ” Bangsa Pemarah ” . Apabila bangsa kita ini paling lambat pertumbuhan ekonominya di kawasan Asean, seperti yang ditulisnya di mass media.
Penulisannya yang memberi pencerahan memasuki 2020 itu, dengan masuknya era global itu, kata ia barang dan jasa ,investasi , lalu lintas modal dan pergerakan tenaga kerja akan bebas-sebebasnya.
Perdagangan exim dengan tarif nol % , berarti barang bebas untuk di ekspor dan di impor termasuk pemasok jasa service provider juga bebas berkelana melewati batas negara.
Penegasan ia dalam mengantisipasi pembauran yang mendunia itu , adalah kita harus bekerja keras dalam menuju mengarungi era yang mendunia itu, ujarnya.
Sementara harapan bagi bangsa kita ini , adalah bagaimana memenangkan berbagai persaingan itu disaat warga dunia membaur antar negara, harapnya.
MUSLIM EXCHANGE PROGRAM AUSTRALIA KUNJUNGI UMY
LAPORAN : AFFAN SAFANI ADHAM
YOGYAKARTA - SURABAYAWEBS.COM
Tujuh tokoh muda muslim Australia yang didampingi staf Kedutaan Besar Australia di Indonesia, kemarin kunjungi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam rangka bertukar pikiran untuk meningkatkan kualitas diri para Muslim dan berbagi informasi mengenai kehidupan Muslim di kedua negara.
Mark John Pedersen, salah satu delegasi Muslim Exchange Program (MEP) dari Australia, mengatakan membangun karakter positif dan melakukan contoh yang baik dalam setiap aktivitas merupakan cara terbaik yang dapat dilakukan oleh komunitas Muslim sebagai kaum minoritas dalam merepresentasikan dan menghadapi tantangan yang mucul.
Menurut Mark, Australia merupakan negara multikultural yang kaya akan keragaman budaya, termasuk kepercayaan. Namun sebagai kelompok minoritas, Muslim di Australia tak bisa dipungkiri menghadapi tantangan. “Terutama pasca munculnya kasus terorisme yang tak hanya terjadi di Australia tetapi juga di belahan dunia lainnya,” jelas Mark.
Stigma Muslim pun bermunculan di benua Kangguru tersebut, lantas disikapi komunitas Muslim dis ana dengan memfokuskan untuk melakukan aktivitas, kegiatan dengan hal positif. “Tak perlu menyalahkan siapa pun dengan kondisi itu, karena itu merupakan salah satu tantangan sebagai Muslim,” ungkap Mark.
Memirit Mark, membangun karakter dan contoh yang baik dalam setiap aktivitas akan memberikan representasi yang baik pula bagi orang lain saat memandang komunitas Muslim. “Hal tersebut merupakan cara terbaik dalam menghadapi tantangan tersebut,” papar Mark. Selain itu, bekerja untuk memberikan kontribusi positif kepada semua pihak, tak hanya komunitas Muslim, juga diupayakan komunitas Muslim Australia.
Namun demikian, secara keseluruhan Mark menambahkan jika Autralia merupakan negara aman dan ramah bagi Muslim sehingga tak perlu khawatir jika ingin berkunjung atau tinggal di negara tersebut. Dalam kesempatan tersebut, rombongan juga berharap dapat mengenal Muhammadiyah dan UMY dengan lebih baik lagi.
MUSLIM EXCHANGE PROGRAM AUSTRALIA KUNJUNGI UMY
LAPORAN : AFFAN SAFANI ADHAM
YOGYAKARTA - SURABAYAWEBS.COM
Tujuh tokoh muda muslim Australia yang didampingi staf Kedutaan Besar Australia di Indonesia, kemarin kunjungi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam rangka bertukar pikiran untuk meningkatkan kualitas diri para Muslim dan berbagi informasi mengenai kehidupan Muslim di kedua negara.
Mark John Pedersen, salah satu delegasi Muslim Exchange Program (MEP) dari Australia, mengatakan membangun karakter positif dan melakukan contoh yang baik dalam setiap aktivitas merupakan cara terbaik yang dapat dilakukan oleh komunitas Muslim sebagai kaum minoritas dalam merepresentasikan dan menghadapi tantangan yang mucul.
Menurut Mark, Australia merupakan negara multikultural yang kaya akan keragaman budaya, termasuk kepercayaan. Namun sebagai kelompok minoritas, Muslim di Australia tak bisa dipungkiri menghadapi tantangan. “Terutama pasca munculnya kasus terorisme yang tak hanya terjadi di Australia tetapi juga di belahan dunia lainnya,” jelas Mark.
Stigma Muslim pun bermunculan di benua Kangguru tersebut, lantas disikapi komunitas Muslim dis ana dengan memfokuskan untuk melakukan aktivitas, kegiatan dengan hal positif. “Tak perlu menyalahkan siapa pun dengan kondisi itu, karena itu merupakan salah satu tantangan sebagai Muslim,” ungkap Mark.
Memirit Mark, membangun karakter dan contoh yang baik dalam setiap aktivitas akan memberikan representasi yang baik pula bagi orang lain saat memandang komunitas Muslim. “Hal tersebut merupakan cara terbaik dalam menghadapi tantangan tersebut,” papar Mark. Selain itu, bekerja untuk memberikan kontribusi positif kepada semua pihak, tak hanya komunitas Muslim, juga diupayakan komunitas Muslim Australia.
Namun demikian, secara keseluruhan Mark menambahkan jika Autralia merupakan negara aman dan ramah bagi Muslim sehingga tak perlu khawatir jika ingin berkunjung atau tinggal di negara tersebut. Dalam kesempatan tersebut, rombongan juga berharap dapat mengenal Muhammadiyah dan UMY dengan lebih baik lagi.
MUSLIM EXCHANGE PROGRAM AUSTRALIA KUNJUNGI UMY
LAPORAN : AFFAN SAFANI ADHAM
YOGYAKARTA - SURABAYAWEBS.COM
Tujuh tokoh muda muslim Australia yang didampingi staf Kedutaan Besar Australia di Indonesia, kemarin kunjungi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam rangka bertukar pikiran untuk meningkatkan kualitas diri para Muslim dan berbagi informasi mengenai kehidupan Muslim di kedua negara.
Mark John Pedersen, salah satu delegasi Muslim Exchange Program (MEP) dari Australia, mengatakan membangun karakter positif dan melakukan contoh yang baik dalam setiap aktivitas merupakan cara terbaik yang dapat dilakukan oleh komunitas Muslim sebagai kaum minoritas dalam merepresentasikan dan menghadapi tantangan yang mucul.
Menurut Mark, Australia merupakan negara multikultural yang kaya akan keragaman budaya, termasuk kepercayaan. Namun sebagai kelompok minoritas, Muslim di Australia tak bisa dipungkiri menghadapi tantangan. “Terutama pasca munculnya kasus terorisme yang tak hanya terjadi di Australia tetapi juga di belahan dunia lainnya,” jelas Mark.
Stigma Muslim pun bermunculan di benua Kangguru tersebut, lantas disikapi komunitas Muslim dis ana dengan memfokuskan untuk melakukan aktivitas, kegiatan dengan hal positif. “Tak perlu menyalahkan siapa pun dengan kondisi itu, karena itu merupakan salah satu tantangan sebagai Muslim,” ungkap Mark.
Memirit Mark, membangun karakter dan contoh yang baik dalam setiap aktivitas akan memberikan representasi yang baik pula bagi orang lain saat memandang komunitas Muslim. “Hal tersebut merupakan cara terbaik dalam menghadapi tantangan tersebut,” papar Mark. Selain itu, bekerja untuk memberikan kontribusi positif kepada semua pihak, tak hanya komunitas Muslim, juga diupayakan komunitas Muslim Australia.
Namun demikian, secara keseluruhan Mark menambahkan jika Autralia merupakan negara aman dan ramah bagi Muslim sehingga tak perlu khawatir jika ingin berkunjung atau tinggal di negara tersebut. Dalam kesempatan tersebut, rombongan juga berharap dapat mengenal Muhammadiyah dan UMY dengan lebih baik lagi.
Proses Migrasi Muslim Tioghoa Indonesia
YOGYAKARTA-SURABAYAWEBS
LAPORAN AFFAN SAFANI ADHAM
Sebagai negara yang kaya akan keragaman budaya, proses migrasi Muslim Tionghoa di Indonesia menjadi menarik untuk dikaji. Mengingat Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, yang di dalamnya juga tersebar masyarakat Tionghoa yang menjadi bagian minoritas dari negeri ini. Hal tersebut disampaikan Direktur Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Tulus Warsito, di Kampus Terpadu UMY, Selasa (11/5).
Dengan pemikiran tersebut, Tulus diundang menjadi sebagai panelis oleh Institute of Ethnology and Anthropology dalam An Inter-Conference of Metropolis International -Migration in China and Asia: Experience and Policy yang akan digelar pada bulan ini di Beijing, Cina. Sebagai panelis, Ia akan membahas isu migrasi, terutama terkait “Indonesian Chinese Muslim: Problems and Prospects”. Konferensi tersebut nantinya akan diikuti oleh 70 panelis, 15 diantaranya berasal dari Cina, sedangkan 55 panelis lainnya berasal dari Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Jepang, Australia, Rumania, Belgia, Rusia, India, Afrika Selatan, Srilangka, dan negara di Asia lainnya.
Tulus mengungkapkan, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki banyak keragaman suku, termasuk salah satunya Muslim Tionghoa. Sayangnya, dengan jumlah sekitar tiga juta orang atau tidak lebih dari 1,5 % dari jumlah populasi Indonesia, masyarakat Tionghoa di Indonesia mengalami diskriminasi pada masa pemerintahan Orde Baru. Pada era tersebut, penggunaan tulisan bahasa Mandarin dalam publikasi dan iklan dilarang, kecuali koran Harian Indonesia saja yang diperbolehkan untuk diterbitkan dalam bahasa Mandarin dan Indonesia meski tetap saja di bawah kontrol dari pemerintah.
“Selain itu, masalah yang dihadapi masyarakat Tionghoa disini pun juga meliputi penutupan sekolah Mandarin, dilarangnya perayaan budaya Tionghoa, serta permintaan pemerintah bagi masyarakat Tionghoa untuk merubah nama mereka menjadi seperti nama Indonesia,” paparnya. Namun, pada era reformasi, masyarakat Tionghoa telah berhasil mengatasi permasalahan tersebut bahkan Tahun Baru Cina pun dijadikan hari libur nasional secara resmi di negeri ini. “Muslim Tionghoa saat ini bahkan telah mempunyai membentuk Persatuan Islam Tionghoa Indonesia atau PITI yang mempunyai peran penting dalam menjembatani Muslim dengan masyarakat Tionghoa di negeri ini,” papar Tulus.
Proses migrasi Muslim Tionghoa ini jugalah yang dinilai Tulus perlu diinformasikan dan didiskusikan lebih luas lagi melalui konferensi ini sehingga budaya Indonesia yang kaya keragaman akan semakin terlihat level internasional. “Selain itu, semoga konferensi ini bisa menjadi ajang studi banding mengenai Chinese Studies di level internasional,” pungkasnya.
GUBERNUR JAWA BARAT ACHMAD HERYAWAN LOUNCHING DESA PERADABAN DI KUNINGAN
Laporan : H.Erry Budianto
Bandung-Surabayawebs.com
Gubernur Jawa Barat H.Ahmad Heryawan, melakukan Lounching Desa Peradaban di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Desa Peradaban ini awalnya berangkat dari kepedulian Pemprov Jawa Barat meningkatkan infrastruktur dan perekonomian pedesaan, sehingga memiliki kelengkapan sarana dan prasarana perekonomian seperti pasar yang memadai, sekolah, Puskesmas yang siap membantu meningkatkan kesehatan masyarakat pedesaan, pertanian yang menjadi andalan warga. “Sehingga dapat mencegah arus urbanisasi ke kota,” kata staf Humas Pemprov Jawa Barat Wawan Hermawan hari ini di Bandung.
Oleh karena itu Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) yang dipimpin Dr.Ir.H.Dadang Mohamad Ma’some MSCE akan mengawal pelaksanaan program Desa Membangun Menuju Desa Peradaban di Jawa Barat. Dengan kawalan yang profesional dan sepenuh hati ini diharapkan meminimalkan kemungkinan terjadinya penyimpangan.
BPMPD Jawa Barat telah menyiapkan anggaran Rp.100 miliar untuk 100 desa membangun menuju Desa Peradaban. Dana stimulan tahap awal itu diharapkan dapat membenahi innsfrastruktur pedesaan, perekonomian dan dimanfatkan juga untuk padat karya produktif.
Data yang diperoleh dari BPMPD Jawa Barat, Kabupaten Cirebon, Garut dan Bogor memperoleh dana stimulant tersebut paling banyak. Yaitu masing-masing untuk 8 desa. Ke 100 desa yang mendapatkan kucuran dana tersebut diprediksikan mampu memberikan kontribusinya terhadap peningkatan IPM Jawa Barat. Tercatat juga Desa kelahiran Gubernur Jabar H.Ahmad Heryawan di Kabupaten Sukabumi termasuk yang memperoleh dana pendorong-pengerak Desa Membangun menuju Desa Peradaban ini.
Dari total 5.230 desa di Jawa Barat awalnya terdapat 150 desa yang layak memperoleh bantuan dana Desa Membangun menuju Desa Peradaban, masing-masing Rp.1 miliar. Lalu diteliti melalui survey yang ketat sebanyak 135 desa. Hasilnya, 100 desa dinilai paling layak menerima dana program pencegahan urbanisasi itu. Sehingga desa maju yang disebut sebagai Desa Peradaban itu yang dilengkapi sarana dan prasarana ini diharapkan membuat warganya betah dan bersemangat membangun desanya menjadi desa maju. Dan tidak perlu mencari pekerjaan ke kota-kota besar.
Persyaratan yang digarisbawahi oleh BPMPD Jawa Barat bagi desa yang mendapatkan dana stimulan ini antara lain memiliki potensi sumber daya alam yang bisa dikembangkan dan ditetapkan melalui keputusan desa. Lalu mempunyai potensi sumber daya manusia (SDM), juga terdapat akses transportasi yang memadai, mempunyai profil desa selama 2 tahun terakhir.
Selain itu memiliki RKPDES dan RPJMDES yang sudah ditetapkan lewat peraturan desa. Syarat lainnya juga harus dipenuhi yaitu [ernah menjadi juara lomba desa selama 3 tahun terakhir 2007-2008 dan 2009 di tingkat Kabupaten yang ditetap melalui Keputusan Bupati.
SOSIALISASI KEEKONOMIAN LISTRIK BAGI PELANGGAN 6.600 VA HARUS DILAKSANAKAN
LAPORAN : MAULANA
JAKARTA - SURABAYAWEBS.COM
Pemerintah menyarankan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menunda penerapan Surat Keputusan (SK) Dirut PLN tentang Keekonomian Listrik Pelanggan 6.600 VA agar bisa disosialisasikan lebih dahulu kepada masyarakat. ”Kita menyarankan PLN untuk menunda karena sosialisasi belum dilakukan merata. Masyarakat masih bingung, padahal kita dari awal sudah menyampaikan agar pelaksanaan Undang-Undang 47/ 2009 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2010 harus dilakukan sosialisasi dulu,” ujar Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) J Purwono di Jakarta.
SK tersebut berisi pemangkasan batas hemat pemakaian listrik pelanggan 6.600 VA ke atas dari 98 jam menjadi hanya 50 jam. Apabila pemakaian lebih dari 50 jam, pelanggan harus membayar tarif nonsubsidi sebesar Rp1.380 per kwh untuk kelebihannya. Selain meminta PLN melakukan sosialisasi, pemerintah juga meminta agar perusahaan listrik pelat merah itu berkonsultasi terlebih dulu dengan DPR.
”Ini cuma masalah miss komunikasi,” tuturnya. Purwono mengatakan, pemangkasan batas hemat pemakaian listrik bagi pelanggan 6.600 VA ke atas bisa menghemat Rp2,8 triliun per tahun. Sementara itu, Direktur Bisnis dan Manajemen Risiko PLN Murtaqi Syamsuddin membantah SK tersebut sebagai bentuk kenaikan tarif ataupun kenaikan tarif dasar listrik (TDL).
Menurut dia, penerbitan SK tersebut sudah sesuai UU No 47 /2009 tentang APBN 2010.Dalam UU itu dijelaskan,untuk mendorong penghematan pemakaian energi dan penghematan subsidi negara atas pemakaian listrik, pelanggan yang mampu secara ekonomi,yakni pelanggan dengan daya 6.600 VA ke atas, dikenakan batas pemakaian bersubsidi.
Jumlah pelanggan dengan daya 6.600 VA ke atas tercatat sebanyak 378.000. ”Pemakaian sampai batas tertentu (50% rata-rata subsidi nasional), pelanggan masih membayar dengan tarif dasar bersubsidi (sesuai golongan). Pemakaian selebihnya dari batas itu, pelanggan membayar sesuai keekonomiannya, tidak bersubsidi yaitu Rp1.380 per kwh,” tutur Murtaqi.
Keduanya juga masih mengacu pada TDL yang berlaku. Sementara itu, anggota Komisi VII DPR Satya W Yudha mengatakan, DPR periode lalu pada dasarnya memang telah menyetujui PLN melakukan penghematan pemakaian listrik melalui mekanisme penerapan tarif subsidi dan nonsubsidi.
”Tapi yang kita minta, sebelum melakukan itu PLN harus melakukan due diligent dulu. Itu tidak pernah disampaikan kepada kami,” cetusnya. DPR, tegas Satya, meminta PLN untuk menertibkan mekanisme penerapan batas hemat pemakaian listrik bagi pelanggan 6.600 VA ke atas yang baru. Lebih lanjut Satya menilai telah terjadi disinkronisasi antara Panitia Anggaran (Panggar) dan Komisi VII.
Panggar sudah mengizinkan ada penetapan batas hemat pemakaian listrik melalui UU No 47/2009 tentang APBN 2010,sementara Komisi VII belum menerima due diligent keputusan itu dari PLN. ”Pada waktu panitia anggaran memasukkan di UU APBN 2010 harusnya mendapat endorsement terlebih dulu dari Komisi VII.Jadi, seakan-akan masuk sebelah sana di ketok,tapi tidak memenuhi yang sebelah sini,”paparnya.***
OBAMA AKAN LAKUKAN NAPAK TILAS PADA KUNJUNGAN MARET MENDATANG
LAPORAN : VOA/S.HAJAR
JAKARTA - SURABAYAWEBS.COM
Presiden AS Barack Obama akan melakukan apa yang akan menjadi perjalanan emosional dengan keluarganya ke negara masa kanak-kanaknya Indonesia, Maret, dan juga akan mengunjungi Australia, Gedung Putih mengumumkan, Senin. Obama, yang dikenal sebagai “Barry Kecil” ketika tinggal di Jakarta dengan ibunya pada 1960-an, mengatakan tahun lalu bahwa ia telah menanti-nanti untuk mengunjungi tempat-tempat tua yang sering dikunjunginya di Indonesia.
Ia telah diundang untuk melakukan lawatan itu oleh Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, dan kedua belah pihak menyatakan mereka merencanakan untuk menggunakan hubungan masa kanak-kanak Obama dengan negara itu untuk mempererat lagi hubungan penting Pasifik-raya. “Lawatan ini merupakan bagian penting dari upaya terus-menerus presiden untuk memperluas dan memperkokoh persekutuan yang penting untuk memajukan keamanan dan kemakmuran kita,” kata jurubicara Gedung Putih Robert Gibbs.
Gibbs menjelaskan bahwa Obama akan meresmikan Kemitraan Komprehensif AS-Indonesia dalam kunjungan itu, yang dimaksudkan untuk memperdalam lagi hubungan antara kedua negara tersebut. Mungkin ia akan memperkenalkan isterinya Michelle dan puteri mereka Malia dan Sasha pada lingkungan tempat ia dikenal sebagai seorang anak laki-laki dan juga pada beberapa teman lama sekolahnya.
Kunjungan Obama akan disambut dengan harapan sangat besar di Indonesia, dan operasi keamanan komprehensif di negara berpenduduk Muslim paling banyak di dunia itu. Washington telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi spekulasi dan laporan di Indonesia, bahwa Obama akan mengunjungi negara itu pada tahun pertamanya memegang tampuk kekuasaan, tapi membuat janji ia akan melakukan perjalanan itu tahun ini.
Obama telah menghabiskan sebagian dari masa kanak-kanaknya di Indonesia setelah ibunya yang telah bercerai menikahi seorang pria Indonesia dan menghadiri sekolah dasar di Jakarta antara 1967 dan 1971. Hubungan masa kanak-kanak itu dan pengetahuannya mengenai beberapa kata bahasa Indonesia telah membuatnya sangat terkenal di negara dari 234 juta orang, 90 persen dari mereka Muslim itu.
Gibbs menyatakan Obama telah menanti untuk membicarakan sejumlah masalah termasuk energi hijau, perubahan iklim, pemulihan ekonomi dan non-proliferasi dengan PM Australia Kevin Rudd. Dalam lawatan ke Asia itu, Obama akan menemui tentara AS yang ditempatkan di Guam, kata Gibbs.
Rudd dan Obama telah bertemu sejumlah kali sejak Obama menjadi presiden tahun lalu, termasuk di AS, dan telah menempa hubungan diplomatik yang dekat dan saling memuji, khususnya dalam perubahan iklim.***
Berita Utama Terbaru
- TELKOM Mulai Opersikan Home Digital Service (3-09-2010)
- TELKOM Mulai Opersikan Home Digital Service (3-09-2010)
- PENILAIAN PUBLIK KE SBY-BOEDIONO MENURUN (2-09-2010)
- SBY INSTRUKSIKAN STABILKAN HARGA SEMBAKO (2-09-2010)
- UMAT ISLAM INDONESIA DI COLORADO KUMPULKAN DANA UNTUK PEMBANGUNAN MASJID (2-09-2010)
- IDTUG: ADA LAYANAN SELULER DI SURABYA DAN SEMARANG YANG RENDAH (2-09-2010)
- MEDIA MASSA PILAR KELIMA PENDIDIKAN (2-09-2010)
- Mudik Bebas Repot menyongsong Idul Fitri 2010 (2-09-2010)
- Gunung Sinabung Meletus: TELKOM Dirikan Posko Siaga Bencana Di Brastagi Dan Kabanjahe (2-09-2010)
- BOM PINGGIR JALAN TEWASKAN 5 SERDADU AS DI AFGANISTAN (1-09-2010)

