ADA GERAKAN DI ACEH YANG INGIN HANCURKAN MODALITAS POLITIK SBY.

Tanggal : 22-02-2012, Kategori : Berita Utama, Politik & Keamanan

LAPORAN : H.ERRY  BUDIANTO

JAKARTA-SURABAYAWEBS.COM

Pemerhati masalah Aceh, Otto Syamsudin Ishak mengatakan ada gerakan yang ingin menghancurkan modalitas politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD).

Menurut Otto Syamsudin, penghancuran modalitas politik ini dikarenakan SBY menjadi tokoh penting dalam membawa Aceh menuju wilayah yang damai dan kondusif. SBY bisa menjadi presiden dengan memperoleh 93 persen lebih suara di provinsi Aceh, salah satunya dikarenakan keberhasilan SBY dalam menyelesaikan konflik di Aceh secara damai.

Dikemukakan dia,  ada pihak tertentu yang ingin mengganggu dan merusak perdamaian di Aceh. Untuk itu Otto meminta pemerintah dapat menyelesaikan persoalan ini secara serius dan segera.

Sasaran pelaku terhadap satu etnis tertentu yaitu Jawa juga dilihat Otto memiliki tujuan khusus untuk menciptakan konflik horizontal antaretnis.Katanya, pelakunya ini memanfaatkan momentum kekacauan di dalam pelaksanaan pilkada.

Menurut dia,  tidak ada kaitannya dengan pilkada. Karena korbannya itu bukan partisipan yang mengikuti kompetisi dalam pilkada, bukan dari satu faksi politik. Tetapi terkonsentrasi atau mengarah kepada satu etnis tertentu. “Ini adalah penghancuran terhadap modalitas politik SBY yang berada di Aceh. Tetapi ada gerakan yang menghancurkan modalitas SBY di Serambi Aceh,” ungkapnya seperti yang ditulis koran nasional terkemuka  terbitan Jawa Barat, Harian Pikiran Rakyat.

Sementara itu Al Araf, Direktur Program The Indonesian Human Rights Monitor (Imparsial),  menilai sejumlah kasus kekerasan di negeri Serambi Aceh tersebut  diduga kuat bukan kriminal biasa, tetapi terkait dengan politik.

Disebutkannya,  memang tidak semua kekerasan yang terjadi di Bumi Aceh bernuansa  politik. Tapi saat  korban ataupun peristiwa yang terjadi dekat momentum politik, jelas bahwa ada motif politik di belakangnya. Untuk itu, kata Al Araf, Imparsial meminta pihak kepolisian untuk mengungkap berbagai kasus kekerasan yang terjadi di Aceh dengan segera.

Dijelaskan dia,  argumentasi yang memperkuat kekerasan yang bermotif politik adalah kekerasan ini intensitasnya meningkat di akhir tahun 2011. Hal ini menjelang proses pilkada di Aceh 9 April 2012 mendatang.. “Dari fakta 13 kasus kekerasan tahun 2011 dilakukan oleh orang tidak dikenal yang aparat kepolisian sebagian besar kasusnya tidak bisa terungkap  sampai tuntas,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri, Irjen Saud Usman Nasution membantah kalau polisi tidak serius mengungkap pelaku kekerasan di Aceh. Pihaknya masih melakukan penyelidikan atas kasus tersebut. “Masih dalam penyelidikan. Kita belum menemukan tersangkanya kita belum bisa mengatakan ada motif politik atau tidak,” jelasnya.

Baru-baru ini terjadi sejumlah penembakan oleh orang tidak dikenal terhadap pekerja pendatang yang berasal dari Jawa. Akibat penembakan tersebut 5 orang tewas dan sejumlah orang luka parah.

Dari data kepolisian  sepanjang 2011 terjadi 40 kasus kekerasan di Aceh dan 26 di antaranya telah diungkap dan sebagian besar menggunakan senjata api. Sepanjang tahun 2011 polisi juga telah menyita 44 pucuk senjata, granat pelontar dan hampir 7.000 amunisi di Aceh.