YANG PASTI ADALAH PERUBAHAN DAN BISNIS TELEKOMUNIKASI DIPASTIKAN MULAI MELANDAI. LALU SIAPA YAN G MENIKMATI LAYANAN IT ?

Tanggal : 5-02-2012, Kategori : Berita Utama, Ekonomi & Bisnis, Teknologi

LAPORAN : H. ERRY BUDIANTO

Perusahaan Fotografi Global Eastman Kodak Co., yang pernah menguasai bisnis fotografi dunia selama lebih dari seratus tahun, sejak tahun 1888, pada awal  2012 ini telah mendaftarkan kepailitannya, karena bisnis ini mulai menurun sejak sepuluh tahun yang lalu dengan munculnya kamera digital dari Canon Inc dan mesin cetak berwarna digital dari Hewlett Packard, mengganti sistem kamera berbasis film.

Perusahaan-perusahaan besar dunia berbasiskan teknologi seperti Eastman Kodak akan menghilang satu-persatu akibat perubahan dan kemajuan teknologi baru yang mengganti teknologi lama.

Diprediksikan nasib yang sama akan dialami oleh perusahaan-perusahaan telekomunikasi global maupun dmestik di tanaha air. Satu-persatu akan menghilang dari sorotan sebagai perusahaan yang besar dan berpengaruh karena saat ini sedang terjadi perubahan dari teknologi analog dan switsing TDM (Time Division Multiplexing) ke teknologi digital dan switsing paket (Packet Switch, Internet Protocol). Bisnis telekomunikasi dari voice akan semakin menipis dan diambil market bisnis data yang menjanjikan.

Jika melihat Daftar Kapitalisasi Perusahaan-perusahaan di Pasar Saham Global sekitar 20-tahun yang lalu, maka yang terlihat di urutan teratas adalah perusahaan-perusahaan telekomunikasi global seperti AT&T, British Telecom, KPN Nederland, Deutsche Telecom, France Telecom, NTT, dan beberapa lagi. Namun saat ini nama-nama mereka

sudah menghilang dari urutan 100-terbesar dunia, digantikan oleh nama-nama perusahaan Non-Telekomunikasi seperti Google, Microsoft, Apple, Yahoo, Samsung, Facebook, dan sebagainya. Mengapa bisa terjadi demikian?

Hal ini  karena perusahaan-perusahaan telekomunikasi, baik global maupun domestik sudah mencapai puncak kejayaannya, dan  bisnis legacy mereka sudah tidak menjanjikan lagi dalam sikulus kehidupannya menuju ke Era Baru, Next Generation Network (NGN), dimana terjadi perubahan struktur industri dan struktur pasar bisnis telematika.

Penghasilan terbesar tidak lagi dimiliki oleh penyelenggara jaringan seperti pada masa lalu, tetapi penghasilan besar itu dinikmati oleh para penyelenggara layanan-layanan nilai tambah yang memanfaatkan jaringan, seperti Google, Yahoo, BlackBerry messaging, transaksi jual-beli online oleh Amazon.com dan sejenisnya, layanan outsourcing manajemen operasional perusahaan, layanan transmisi satu arah maupun interaktif suara, text, data dan multimedia berbasiskan Protokol Internet (seperti VoIP, IM, YM, Streaming Video, IPTV dsb.

Beban tugas penyelenggara jaringan telekomunikasi itu menjadi semakin berat, karena dituntut untuk menyediakan kapasitas jaringan semakin besar, mutu layanan semakin baik, namun hanya dengan imbalan penghasilan yg makin menurun per volume data  ditransmisikannya.

Ini membuat para penyelenggara jaringan telekomunikasi tingkat menengah seperti XL Axiata dan Indosat, serta para penyelenggara jaringan kecil untuk menyerahkan pengelolaan operasi dan pemeliharaan jaringan kepada pihak ketiga bukan operator, yaitu para vendor perangkat seperti Huawei, Nokia Siemens Network dan Ericsson.

Operator telekomunikasi itu lebih memilih untuk memfokuskan pada pemasaran layanan jasa-jasa mereka, kerjasama penyediaan konten dan aplikasi-aplikasi baru dan menarik, seperti game online, download musik, game, software, ringtone, kerjasama dengan media advertising untuk iklan di ponsel, dan lain-lain, dengan pola bagi hasil dengan pihak-pihak ketiga mitra mereka.

Operator telekomunikasi itu juga sudah bekerjasama dengan pihak ketiga dalam penyediaan platform komunikasi atau messaging seperti BlackBerry dan VoIP (Skype-Telkomsel), dan nantinya dengan Yahoo, Googlephone, dan lainnya yang tentunya akan muncul dikemudian hari.

Platform lainnya adalah penyediaan server Cloud Computing untuk berbagai layanan jasa aplikasi bisnis korporasi maupun individu, outsourcing proses-proses bisnis dan pengatahuan melalui kerjasama antara pihak ketiga dan operator.

Kita saat ini baru menjalani transisi menunju ke Era All IP NGN, namun sudah melihat arah perubahan penyelenggaraan layan Telematika menuju ke 4 lapisan penyelenggaraan NGN, yaitu:
1. Penyelenggara Fasilitas Jaringan (NFP)
2. Penyelenggara Layanan Jaringan (NSP)
3. Penyelanggara Layanan Aplikasi (ASP)
4. Penyelenggara Layanan Aplikasi Konten (CASP)

Kini perusahaan telekomunikasi yang mendapatkan suntikan dana dari investor luar negeri itu umumnya focus pada  penyelenggaraan layanan teratas, yaitu ASP dan CASP, sebab lebih murah biaya CAPEX-nya namun lebih besar pendapatannya atau tinggi Rate of Return-nya.

Inilah yang disebut sebagai mencairnya para penyelenggara telekomunikasi, khususnya penelenggaraan fasilitas dan layanan jaringan, yang tren-nya menuju ke outsourcing investasi dan SDM ke pihak ketiga yang bukan operator, melainkan para vendor perangkat dan mungkin juga para pengusaha UKM yang bertugas mengelola outsourcing tenaga-tenaga kerja yang diperlukan.

Para karyawan itu bukan karyawan perusahaan Telekomunikasi, melainkan karyawan vendor dan UKM. Mereka bukan lagi perusahaan telekomunikasi dengan penghasilan besar dan kapitalisasi saham yang termasuk urutan 100-terbesar dunia lagi.

Apakah ini sebuah pilihan yang terbaik bagi operator kelas menengah kebawah ? Bagaimana dengan operator terbesar, apakah akan mengikuti pola yang sama, ataukah pilihannya berbeda ? Operator telekomunikasi kelas dunia PT.Telkom Tbk karena itu telah jauh-jauh hari meluncurkan bisnis fortofolio TIME (Telekomunikasi, Informasi, Media, Edutainment). Ini nampaknya dilihat dengan jeli oleh manajemen perusahaan “Merah Putih” itu bahwa bisnis legacy mereka selama ini sudah tidak menjanjikan lagi.

Dari sisi regulasi, terlihat bahwa UU No. 39/1999 yang mengatur pemberian lisensi penyelenggaraan berdasarkan atas 3-jenis penyelenggaraan, yaitu penyelenggara jaringan, penyelengaara jasa dan penyelenggara telekomunikasi khusus yang basisnya adalah struktur industri vertikal, satu jaringan memberika satu jenis jasa karena masih berbasiskan teknologi analag dan switsing TDM, belum berbasiskan teknologi digital dan switsing paket dan IP.

Oleh karena itu regulator dan legislative perlu melakukan perubahan UU No. 36/1999 untuk menyesuaikannya dengan kondisi saat ini yang sedang menuju ke konvergensi jaringan dan layanan yang berbasiskan switsing paket dan protokol Internet (IP). Tahap awalnya dapat dimulai dari regulasi jenis-jenis lisensi yang akan diberikan kepada para penyelenggara yang sudah berubah fungsi dan fokus layanannya.

Pada 2-lapisan penyelenggraan yang terbawah, yaitu NFP dan NSP yang membutuhkan penyediaan dan investasi infrastruktur jaringan yang mahal, maka pemainnya relatif sedikit, sehingga regulasinya perlu lebih ketat.

Sedangkan pada 2-lapisan penyelenggraan yang teratas, yaitu ASP dan CASP, pemainnya dapat sangat banyak, oleh karena itu regulasinya makin ringan atau “light-touch”, dan tingkat kompetisinya sangat ketat, karena tidak perlu investasi infrastruktur, melainkan cukup memanfaatkan infrastruktur pada 2-lapisan penyelenggaraan terbawah.

Kesempatan untuk mendapatkan penghasilan besar ada di 2-lapisan penyelenggaraan teratas, karena bersifat layanan yang tidak hanya lokal, tetapi pada skala global, menjual berbagai produk2 dan jasa2 antar lokasi2 domestik maupun internasional. Namun karena tingkat kompetisinya sangat ketat, belum tentu bagi penyelenggara yang memfokuskan pada layanan di lapisan teratas ini dapat meraih pendapatan yang besar yang mereka harapkan.

Untuk itu dibutuhkan  strategi kemitraan dengan pihak2 ketiga yang tepat, dan unggul dalam kompetisi. Mereka bukan lagi merupakan perusahaan2 telekomunikasi besar seperti dahulu, melainkan sebagai perusahaan yg menjalankan operasinya “over-the-top” diatas jaringan penyelenggara NFP dan NSP. Bisnis mereka tidak lebih adalah sebagai pemasar layanan jasa-jasa…? Jadi tepatlah ramalan akan terjadinya “The Great Telecom Meltdown” tak lama lagi.

Indonesia sungguh beruntung, di saat AS dan negara-negara Eropa mengalami krisis perekomian, Indonesia malah mengalami pertumbuhan ekonomi yang bisa mencapai angka 6,5% tahun 2012.Meskipun hanya sebatas angka.  Sejalan dengan itu, maka diramalkan bahwa bisnis ICT juga akan mengalami pertumbuhan pesat.

Trafik Data diperkirakan tumbuh sebesar 40% karena makin banyaknya dipakai perangkat-perangkat ponsel canggih (smartphones), seperti iPhone, BlackBerry, Ponsel canggih berbasis Android yang fiturnya makin canggih namun harganya makin turun, seperti produk ponsel Android dari Samsung serie Galaxy, dan produk-produk ponsel Cina maupun dalam negeri.

Dengan meningkatnya trafik data, maka para penyelenggara jaringan telekomunikasi juga harus bekerjka keras menyiapkan infrastruktur yang memadai, kalua tidak mau ditinggalkan oleh para pelanggan.

Ada tendensi bahwa operator jaringan seluler kecil malah bisa memberikan layanan transmisi data yang lebih baik, karena mereka masih sedikit pelanggannya, sehingga belum terjadi kongesti saluran transmisi data. Silahkan mencoba layana Bakrie AHA, Smartfren, dan Tri misalnya. Namun perlu diakui bahwa jangkauan layanan mereka masih terbatas di kota-kota besar saja. Nampaknya hanya Telkomsel saja yang dapat memuaskan pelangganya karena jaringan BTS anak perusahaan PT.Telkom Tbk ini sudah “mengselularkan Indonesia”.

Masyarakat akan semakin banyak yang menggunakan layanan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Linked-In, dan layanan-layanan Yahoo Messaging (YM) dan Instant Messaging (IM), BBM, serta chatting online yang makin digemari masyarakat karena biayanya yang hampir gratis. Demikian juga layanan VoIP atau Skype yang gratis bila antar PC, Laptop, Netbook atau iPad atau Galaxy Tab.

Begitu  juga layanan Game Online, video streaming dari Youtube dan lainnya, IPTV yang mulai muncul di Indonesia yang dirintis oleh PT TELKOM (Groovia), browsing dan download data maupun video, semua itu merupakan trafik data, bukan trafik suara.Namun harus diakui tariff layanan IPTV Telkom ini masih terbilang mahal untuk golongan menengah ke bawah.

Dengan demikian, diperkirakan trafik suara akan makin menurun pertumbuhannya per tahun, digantikan trafik data yang meningkat tajam. Selain harus menyediakan saluran data yang makin besar kapasitasnya yang memerlukan biaya Investasi yang makin besar (CAPEX), para operator jaringan itu juga harus makin menurunkan tarif layanan data mereka agar dapat berkompetisi dengan baik dan tidak ditinggalkan oleh para pelanggannya.

Ini sebuah situasi yang serba salah, mau tetap kompetitif, maka mereka harus memberikan layanan yang memuaskan dengan biaya yang makin besar, dan sebaliknya penghasilan yang diterimanya makin menurun per satuan data yang ditransmisikannya.

Lalu siapa-siapa sajakah yang menikmati pertumbuhan trafik data di Indonesia tahun 2012 ini? Mereka adalah para pelanggan yang diuntungkan dengan makin besarnya kapasitas transmisi data, dengan tarif yang makin turun.

Ini memang secara nasional adalah suatu kemajuan bagi bangsa dan negara, masyarakat Telematika Indonesia menjadi makin produktif, kreatif, cerdas dan memiliki pengetahuan yang luas (karena mudahnya mencari informasi dari Google, Yahoo dan Search Engine lainnya).

Kelompok lainnya yang diuntungkan adalah para pengusaha yang jeli melihat kesempatan untuk memanfaatkan situasi bisnis baru, mereka yang kreatif dan inovatif, memberikan layanan-layanan baru yang cepat, efektif dan efisien dengan tersedianya saluran komunikasi data yang cepat dan berbiaya relatif murah. Misalnya bisnis Outsourcing Sistem TIK untuk proses-proses bisnis perusahaan atau manajemen pengetahuan (Knowledge Management), kerja jarak jauh atau Teleworking, penyediaan Cloud Computing untuk berbagai aplikasi bisnis yang menggunakan sistem-sistem TIK, dan lain-lain lagi.

Juga yang akan diuntungkan adalah para penyedia Platform Bisnis atau Komunikasi, seperti BlackBerry, Unified Communications, VoIP atau Skype yang menyediakan layanan multimedia (suara, text, data dan video) berbiaya murah atau terjangkau.

Yang lainnya yang akan diuntungkan adalah para penyedia jasa konten, seperti Game Online, eCommerce, eProcurement, eHealth, eEducation, Web Commerce, Forum Jual Beli melalui Web, dan sebagainya.

Oleh karena itu perusahaan raksasa yang bergerak di bidang teknologi informasi seperti Google, Oricle dan Saudi Telecom Company (STC), sudah siap-siap menanamkan modalnya ke Indonesia. Namun pemerintah harus hati-hati menyambut tamunya itu untuk itu diperlukan konektivitas prosedur yang tidak sulit. Faktor yang membuat perusahaan raksasa teknologi informasi itu mengincar Indonesia untuk investasinya ke depan karena kondisi Eropa dan Amerika Serikat yang kini tengah kolaps.

Pada sisi lain, perusahaan  penyelenggara jaringan telekomunikasi yang masih menjalankan bisnisnya secara konvensional akan berperan hanya sebagai penyedia “pipa bodoh” atau “dumb pipe“, kecuali bila mereka mampu memanfaatkan situasi bisnis TIK yang baru ini, Salah satunya adalah melalui kerjasama yang saling menguntungkan dengan para penyedia layanan-layanan “over-the-top” (OTT) tersebut diatas.

Bila perlu dan bila mampu, mereka dapat juga melakukan merger dan akuisisi perusahaan-perusahaan OTT itu demi untuk dapat ikut menikmati kue pertumbuhan bisnis TIK di Indonesia. Yang harus mereka jaga adalah langkah-langkah M&A itu tidah melanggar aturan monopoli bisnis atau atau penguasaan pasar yang melampau kewajaran…atau agar dapat memenangkan argumentasi melawan KPPU. Nah !?