PT.TIPHONE MOBILE INDONESIA OPTIMIS PENJUALAN SAHAMNYA DI BSI AKAN SUKSES.

Tanggal : 5-02-2012, Kategori : Berita Utama, Ekonomi & Bisnis

LAPORAN : H. ERRY BUDIANTO

JAKARTA-SURABAYAWEBS.COM

PT TiPhone Mobile Indonesia Tbk (TiPhone) optimistis 2.675 miliar saham atau 40,08% dari total saham yang ditawarkan perseroan ke bursa saham Indonesia (BSI)  akan diminati oleh pasar.

“Kami optimistis saham yang dilempar ke pubilk kala Initial Public Offering (IPO) akan diminati oleh pasar. Walaupun biasanya awal tahun suasana pasar belum bergairah, tetapi bisnis harus terus berjalan. Karena itu kita tetap optimistis nantinya dengan respons pasar,” ujar Dirut PT. TiPhone Mobile Indonesia (TMI) Tbk, Garuda Sugardo di Jakarta.

Garuda mengatakan, perseroan memiliki lini bisnis distribusi dan retail (Telesindo Shop), distribusi voucher XL (Excel Utama Indonesia), service center (Setia Utama Services), serta penyedia konten dan aplikasi melalui PT Setia Utama Media Aplikasi.

“Kami ini perusahaan yang bergerak multi bisnis dengan awalnya di penjualan voucher. Ini berbeda dengan emiten sejenis yang sudah ada di pasar. Kami lepas saham seharga Rp 25- Rp 350 rupiah per saham.  Kami harapkan ada dana terserap sekitar Rp 700- Rp 900 miliar. Penjamin emisinya   Sinarmas Sekuritas,” jelas “Bapak Selular Indonesia”: ini.

Menurut Garuda, tahun 2012 ini perseroan membidik  omset sebesar Rp 8 triliun  atau naik dari capaian tahun lalu  sekitar  Rp 6 triliun.

“Kami membidik omset 2012 sebesar  itu dengan laba bersih Rp 230 miliar  dimana nantinya yang menjadi kontributor utama adalah PT Telesindo Shop yang selama ini bermain di penjualan voucher dan kartu perdana milik Telkomsel. Telesindo Shop ini berkontribusi sekitar 70 persen bagi total omset TiPhone Mobile,” katanya.

Berdasarkan data public expose, TiPhone Mobile hingga 30 Juni 2011 memiliki omset Rp 2,980 triliun dengan laba bersih Rp 76.450 miliar. Diperkirakan pada akhir 2011 laba bersih mencapai Rp 220.798 miliar.

Garuda menyebutkan, target tersebut realisitis karena sebagai distributor bagi Telkomsel setiap minggunya membeli voucher secara elektrik senilai Rp 105 miliar. “Dengan komisi yang didapatkan 3 persen target itu realistis,” ungkap mantan Direktur Teknologi PT. Telkomsel ini.

Apalagi, ujarnya,  trend konsumsi komunikasi yang bergeser di masyarakat dari biasanya banyak menggunakan suara dan SMS bergeser ke data. “Average Revenue Per User (ARPU) layanan tradisional itu sekitar Rp 40 ribu, sedangkan broadband sebesar Rp 150 ribu. Ini tentu masih menjanjikan,” akunya.

Sehubungan  dengan diterapkannya pola hard cluster oleh mitra seperti Telkomsel, Garuda menilai, hal itu justru positif karena distributor diberikan tanggungjawab membesarkan pasar yang dikuasainya. “Ini kan masalah adanya komitmen. Kalau tidak capai target wajar ada hukumannya,” katanya pula.

Dikemukakan dia, dari bisnis penjualan ponsel, lumayan menjanjikan di mana market size mencapai 60 sampai 70 juta unit per tahun.  Total market share ponsel lokal saat ini sudah mencapai 40%. Tahun 2012 ini potensi tumbuh 20%, baik yang berasal dari  pelanggan baru maupun pasar replacement yang diperkirakan mencapai 50% dari total penggunaan ponsel yang beredar setiap tahun.

“Bisnis ponsel ini sekarang sudah lifecycle. Pelanggan dalam waktu 6 bulan berganti ponsel. Sekarang ponsel lokal banyak, banting tarif sehingga marginnya kecil. Kami perkirakan nantinnya hanya yang memiliki komitmen pada kualitas dan berhasil mengikat bundling dengan operator, didukung jaringan penjualan yang luas   akan bertahan. Tak lebih dari 4 atau lima merek, dan salah satunya adalah TiPhone,” papar dia..

Dikatakan Garuda, dana hasil Initial Public Offering (IPO) akan digunakan 40 persen untuk melunasi hutang Telesindo Shop ke Bank DBS Indonesia sebesar Rp 360 miliar . Selanjutnya 28 persen untuk perluasan usaha seperti menaikkan jumlah reseller dari 125 ribu unit menjadi 250 ribu unit. Sisanya sebesar 32 persen untuk membiayai modal kerja perusahaan dan anak perusahaan.

“Kami juga akan melakukan ekspansi dalam bisnis mobile content, data, dan multimedia. Selain itu juga akan dilakukan akuisisi terhadap perusahaan distributor untuk memperluas jaringan usaha. Ini karena kami paham sekali bahwa bisnis telekomunikasi sudah mulai melandai tahun ini. Bisnis legacy operator telekomunikasi sudah tidak menjanjikan lagi,” tutur Garuda.