PSSI JANGAN SETALI TIGA UANG DENGAN JAMANNYA NURDIN HALID.

Tanggal : 15-12-2011, Kategori : Berita Utama, Olahraga & Kesehatan


LAPORAN : H.ERRY BUDIANTO

JAKARTA-SURABAYAWEBS.COM

Kekisruhan  di tubuh organisasi olahraga sepakbola PSSI yang tak jelas arahnya, membuat sejumlah lembaga pemerhati sepak bola geram. Salah satunya adalah Indonesia Football Watch (IFW) yang dipimpin Sumaryoto.

Kelompok yang marah ini  meminta agar Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin kembali ke khitah apabila tidak ingin dikudeta. Djohar dinilai telah salah kaprah dalam menjalankan kompetisi Indonesia . Salah satunya, ungkap Sumaryoto, yaitu  mengikutsertakan enam klub yang semestinya tidak berhak masuk ke kompetisi Indonesia Premier League (IPL) di bawah naungan PSSI.

”Kalau  pengurus PSSI bersikeras pada keputusannya, jangan salahkan jika ada yang melakukan kudeta,” ujar Sumaryoto ketika  menggelar sarasehan di Senayan, Jakarta, Rabu 14/12.

Acara  yang dilakukannya bertujuan untuk mencari jalan keluar atas kondisi yang terjadi pada sepak bola Indonesia. IFW pun mengeluarkan sikap terhadap kisruh di tubuh PSSI itu, yakni menuntut agar Djohar Arifin dkk segera kembali ke jalan yang benar, menjalankan amanat statuta.

Pencinta berat olahraga sepakbola ini menilai, sebenarnya penggemar  bola sangat berharap agar  Djohar Arifin mampu menangani kisruh di internal PSSI. Harapan itu dituangkan saat Kongres Luar Biasa (KLB) di Solo lalu. Namun, kenyataannya kini tidak membuahkan hasil yang maksimal. “Djohar malah disetir oleh orang lain dan kekisruhan semakin marak,” kata Sumaryoto.

”Kongres di Solo ternyata tak berjalan sesuai harapan. Tidak menghasilkan kepemimpinan yang kita harapkan. Seperti ada sponsor. Ini jelas tak berbudaya. Tidak etis dan jauh dari keinginan semua pihak agar yang bersengketa selama ini bersatu padu demi kejayaan sepakbola di tanah air..

Pihaknya berharap ada pemimpin baru yang lebih amanah. ìJangan pemilihannya seperti ilmunya Ken Arok yang saling membunuh, saling mengudeta. Saya berharap PSSI kembali kepada rohnya, memimpin dengan budaya,” harapnya pula.

Meskipun  mengharapkan adanya perubahan, IFW sendiri dengan tegas menolak kalau mereka berencana merintis KLB. ”IFW tidak akan menyelenggarakan kongres. Saya mempersilakan klub dan anggota PSSI. Yang jelas IFW tak akan merintis dan mensponsori kongres,” tuturnya.

Sementara itu Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Andi Alifian Mallarangeng, mempertanyakan langkah dari stakeholder sepak bola nasional yang akan menggelar Konggres Luar Biasa (KLB) yang direncanakan pada 17-19 Desember di Jakarta.

Meski tujuannya untuk memperbaiki kondisi persepakbolaan di Indonesia. Namun persoalannya kepengurusan PSSI baru berjalan tiga bulan, jadi mengapa harus ada KLB.’’Pengurus PSSI yang saat ini terpilih baru bekerja tiga bulan. Mengapa harus ada KLB kembali,’’ ujar Menpora kecewa berat.

Mallarangeng juga menyesalkan pengunduran diri Rahmad Darmawan dari kursi pelatih timnas U-23. Menpora menilai, Skuad Garuda Muda di bawah besutan Rahmad tampil luar biasa di SEA Games lalu

Menurut dia, walaupun  kalah, tapi kalah terhormat. “Kita berjalan dengan kepala tegak. Bahkan Mestinya kita menang, jika gol tidak dianulir oleh wasit,” tegasnya.

Di mata Mallarangeng, sosok Rahmad adalah pelatih yang tepat meramu berbagai talenta pesepak bola muda dan memilih skuadnya yang masuk tim dengan kombinasi antara pemain yang berlaga di ISL maupun LPI.

Dikemukakan Menpora, mundurnya  RD adalah ranah dan keputusan dari PSSI sehingga bagi pemerintahi, keputusan itu sudah final atau dapat dibicarakan kembali kesemuanya diserahkan kepada PSSI selaku organisasi olahraga sepakbola tertua di tanah air.

’’Pada prinsipnya Pemerintah sudah jelas, yaitu menginginkan timnas yang tangguh. Tim yang tangguh dapat terwujud jika pelatih punya kewenangan untuk merekrut pemain dari Sabang sampai Merauke tanpa ada diskriminasi apakah bermain di ISL atau IPL,’’ tandasnya menyayangkan diskriminasi pemain dicetuskan PSSI saat sepakbola tengah mendapat tempat di hati masyarakat di tanah air..

Oleh karena itu, Pemerintah hanya minta jangan ada diskriminasi. Dari dulu ketika ada ISL kemudian ada LPI pemerintah sikapnya jelas harus tidak ada diskriminasi.”Karena diskriminasi membuat kita pecah dan terkotak-kotak. Jangan pemain menjadi korban,” tegas Menpora.