BUBARKAN PASPAMPRES !

Tanggal : 29-10-2011, Kategori : Berita Utama, Politik & Keamanan, Sorot Tokoh

LAPORAN : H.ERRY BUDIANTO

BANDUNG-SURABAYAWEBS.COM

Rangkaian foto penangkapan dan penganiayan yang dilakukan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) terhadap seorang pemuda bernama Iqbal Sabarudin Ketua Pengurus Wilayah Himpunan Mahasiswa (Hima) Persatuan Islam (Persis) Jawa Barat, hasil bidikan wartawan foto Galamedia (Koran Group Harian Pikiran Rakyat Bandung), Imam Cahyadi di media nasional terbitan Bandung Harian Pikiran Rakyat pada acara Peringatan ke 83 Tahun Sumpah Pemuda yang dihadiri Wapres Boediono di Stadion Siliwangi Bandung, Jum’at 28/10  menimbulkan “kemarahan” sekaligus “perasaan miris” pembacanya.

Hampir seluruh pembaca Koran terkemuka di Jawa Barat ini menyesalkan  penganiayaan yang dilakukan anggota Paspampres tersebut. Menurut mereka, tidak sepantasnya Paspampres memperlakukan seorang pemuda yang merupakan generasi muda pewaris bangsa ini seperti itu. “Kalau Bandar narkoba yang ditangkap kok malah diperlakukan manis. Padahal merekalah yang merusak moral anak muda negeri ini termasuk merusak moral aparat penegak hukum, sehingga menjadi ketagihan narkoba,” ujar seorang Ibu yang minta namanya tidak disebutkan.

Menurut  dia, tindakan  “berlebihan” yang dilakukan Paspampres tersebut membuat terbuka mata masyarakat di negeri ini bahwa tindakan itu seolah-olah gambaran sebuah pemerintahan dictator di Negara yang katanya Pancasilais dan memiliki nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. “Ini kok gak beradab sama sekali. Dipertontonkan di depan Wapres Boediono lagi, tindakan tidak terpuji tanpa rasa prikemanusiaan sama sekali itu. Sayang rusak susu sebelanga akibat nila setitik,”  katanya prihatin.

Sementara itu seorang anggota masyarakat lainnya di Kota Bandung, juga menyesalkan peristiwa yang mencoreng nama baik Paspampres sebagai  pasukan yang mendapat latihan khusus mengamankan Presiden dan Wapres. “Itu mah bukan tindakan Paspampres yang sebenarnya. Tapi tindakan brutal segerombolan orang yang haus darah,” imbuhnya pula.

Dikemukakan pembaca Harian Pikiran Rakyat ini jika tindakan itu dipertunjukan di depan umum dan Wapres yang Cuma kaget lalu tersenyum, gimana tindakan gelap tidak dilakukan di depan umum. “Kayaknya bisa lebih sadis lagi,” katanya.

Untuk itu pembaca Harian Pikiran Rakyat ini minta agar perekrutan untuk Paspampres harus lebih ketat lagi. Kalau ada yang memperlihatkan moral tidak baik dan senang menyiksa dan menganiaya binatang, sebaiknya jangan diterima sebagai pasukan khusus pengamanan Presiden. “Cari yang beriman, memiliki moral  Pancasilais yang tinggi, rasa cinta dan sayang terhadap bangsa sendiri ,” harapnya. Pembaca ini malah menyarankan, kalau terjadi lagi tindakan berlebihan dari  Paspampres, sebaiknya Paspampres dibubarkan saja dan diganti dengan Pasukan Khusus Cinta dan Sayang Manusia (Paskhascinsama).

Kemarin, Keluarga Besar Persatuan Islam Jawa Barat, teman-teman Iqbal Sabarudin (23) mahasiswa  Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati jurusan tafsir hadis, mendatangi Polresta Bandung sekitar pukul 19.45 WIB, meminta Igbal dibebaskan.

Ditegaskan teman-temannya Iqbal ini bahwa Iqbal sama sekali tidak bersalah. Tidak ada yang dirugikan dan apa untungnya menahan Iqbal. “Bebaskan Iqbal,” teriak mereka.

Massa yang berjumlah puluhan orang itu terdiri atas laki-laki dan wanita. Selain minta Iqbal dibebaskan, mereka juga minta diberikan penjelasan dan keberadaan Iqbal di mana. Sesudah dilakukan mediasi, akhirnya mereka diberikan kesempatan untuk melihat Iqbal.

Lima orang pemuda dipersilahkan masuk ke salah satu ruangan di Gedung Kesatuan Reserse Kriminal Polresta Bandung untuk menemui Iqbal.

Sementara itu Kepala Departemen Bidang Pengkajian Ilmiah Pimpinan Pusat Hima Persis, Nana Wijana, menegaskan, Iqbal Sabarudin bukan penyusup, dia datang atas undangan resmi pantia. “Tapi kami kaget melihat Iqbal nekat berbuat seperti itu,” akunya pula.

Menurut Nana, sebelumnya memang pernah dibicarakan untuk melakukan aksi menyikapi peringatan ke 83 Sumpah Pemuda. Apalagi  acaranya akan dilaksanakan di Bandung dan dihadiri Wapres Boediono. Rencana aslinya akan menyuarakan hal-hal tadi. “Namun sekali lagi kami gak menyangka kalau Iqbal melakukan aksinya seorang diri,” jelasnya lagi.

Nana mewakili Hima Persis, menuntut polisi segera membebaskan Iqbal. Alasannya, tidak ada pelanggaran yang dilakukan Iqbal. Menurut dia kalau Iqbal dituding makar, apa makarnya.” Coba ungkapkan faktanya ?. Padahal Aqbar melakukan aksinya sesuai aturan yang ada. Yaitu kebebasan berpendapat. Iqbal juga sama sekali tidak  menghina Presiden dan Wapres, “ tutur Nana kemudian.

Hima Persis juga menyesalkan sikap Paspampres yang berlebihan. Disebutkannya, Paspampres telah melakukan unsure penganiayaan berat. “Apa perlu dipukul , diinjak dan ditendang seperti itu oleh belasan Paspampres ? Akibatnya Iqbal pun kini harus dirawat di rumah sakit, » katanya.

Wajah Iqbal memar-memar, rahangnya miring, perut dan ulu hatinya sakit karena dipukuli, diinjak dan ditendang. Punggung Iqbal juga juga luka berat akibat diinjak dan ditendang oleh Paspampres. « Kami khawatir  tulang punggung Iqbal retak akibat penyiksaan dan penganiayaan Paspampres itu, » ungkapnya.

Atas peristiwa yang menimpa anggota Hima Persis Iqbal Sabarudin tersebut, Hima Persis akan melaporkan Paspampres secara resmi ke Mabes Polri. « Tuduhan terhadap Paspampres karena telah melakukan penyiksaan, penganiayaan dan menghalangi kebebasan berpendapat. Kami juga akan mendampingin Iqbal  melalui Lembaga Bantuan Hukum Persis. Kami juga akan meminta bantuan Tim Bantuan Hukum Muslim,” jelas Nana Wijana. Dia tidak menolak agar Parpampres dibubarkan saja.

Peristiwa yang menimpa Ketua  Pimpinan Wilayah Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Hima Persis) Jawa Barat Iqbal Sabarudin berawal ketika “nyelonong” ke depan Wapres Boedino dalam jarak sekitar 20 meter di Stadion Siliwangi saat upacara Peringatan 83 Tahun Sumpah Pemuda,Jum’at 28/10.

Pemuda yang bernama Iqbal Sabarudin tersebut adalah Ketua Pengurus Wilayah Hima Persis Jawa Barat dan tercatat sebagai mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati jurusan  tafsir hadis. Iqbal berlari menerobos Paspampres yang menggunakan pakaian batik menerobos ring satu, lalu membentang karton kehadapan Wapres Boediono  yang berada di Tribun VIP.

Tulisan di karton yang dibentang Iqbal Sabarudin antara lain “Sumpah Serapah 28 Oktober 2011. Mengutuk Korupsi Para Pejabat Yang Tidak Amanah. Mengutuk Presiden dan Wapres Yang Tidak Mensejahterakan Rakyat !

Ketika menerobos ke depan, Iqbal sempat dihadang Paspampres, tapi Iqbal bisa meloloskan diri. Dibutuhkan lebih dari 7 orang Paspampres untuk merobohkan dan menangkap Iqbal. Dalam kondisi tidak berdaya, Iqbal dihadiahi pukulan, tendangan dan injakan berkali-kali oleh Paspampres, lalu digelandang ke luar stasion oleh sedikitnya 11 Paspampres.

Insiden terjadi sekitar pukul 10.40 WIB menjelang acara akan berakhir. Ketika itu Wapres Boediono, Menpora Andi Mallarangeng, Gubernur Jawa Barat Acmad Heryawan, Wagub Jabar Dede Yusuf,, Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Muhammad Munir, Kapolda Jabar Irjen Pol Putut Eko Bayuseno dan undangan lainnya tengah menyaksikan tarian kolosal dari kelompok Pemuda Jawa Barat dan diringi music teks Sumpah Pemuda.

Akibat kejadian tersebut sebanyak dua acara sebelum berakhir  Peringatan ke 83 Sumpah Pemuda di Stadion Siliwangi Bandung itu, terpaksa ditiadakan oleh panitia. Sejumlah undangan Nampak murung atas peristiwa  yang baru pertama kali terjadi di Kota Bandung tersebut. “Kasian ya pemuda itu disiksa, dipukul, ditendang dan diinjak-injak oleh Paspampres,” komentar seorang gadis yang menempati  undangan di tribune barat.

Dengan kejadian yang terjadi Jum’at 28/10 kemarin, ini merupakan kedua kalinya Paspampres kecolongan. Peristiwanya hanya sekitar sepekan. Kejadian pertama, pasukan khusus pengamanan Presiden itu kecolongan di Bali, tepatnya 24 Oktober 2011 lalu ketika Nyoman Minta dengan sepeda ontelnya melenggang tanpa dosa ke dekat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Bali.

Kemarin di Stadion Siliwangi Bandung, seorang pemuda yang bernama Iqbal Sabarudin mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati  Bandung yang juga Ketua Pengurus Wilayah Himpunan Mahasiswa Persis “nyelonong” ke depan Wapres Boediono.

Aksi  kebebasan berpendapat itu dihentikan secara keras oleh Paspampres yang menggunakan pakaian batik. Setelah ditangkap, dipukul, ditempeleng, ditendang dan diinjak-injak oleh pasukan khusus pengamanan Presiden itu, barulah diserahkan ke pihak Kepolisian Kota Bandung.

Hari Sabtu 29/10 ini Iqbal sudah dibebaskan oleh Polresta Bandung dan hanya dikenakan wajib lapor. Teman-teman Iqbal menyambut gembira kebebasannya. Namun mereka tetap akan melayangkan surat  pengaduan ke Mabes Polri atas tindakan yang berlebihan yang dilakukan Paspampres tersebut. “Yang melakukan tindakan tidak terpuji itu harus dipanggil dan diperiksa kejiwaannya,” tegas teman-teman Iqbal Sabarudin.