MENTERI BUMN DAHLAN ISKAN DI MATA KARYAWAN PLN DAN JURNALIS.

Tanggal : 18-10-2011, Kategori : Berita Utama, Politik & Keamanan, Sorot Tokoh, Sorot

Oleh  : H. Erry  Budianto

Sosok  “Dahlan Iskan”  yang  menggoncang  dunia  penerbitan  media cetak di tanah air  dengan  konsep  “jenius”  menguasai  seluruh  pelosok  Indonesia  dari Nangroe Aceh Darussalam  sampai Papua,  melalui Koran   Radar  yang menggurita  sampai  ke kota-kota Kabupaten terpencil dan diikuti jejaknya  oleh  media  cetak nasional lainnya lewat  konsep yang sama.

Di  Jawa Timur,  Jawa Pos yang terbit pagi hari, akhirnya membuat terjengkangnya Koran Surabaya Post yang  sudah  “mengakar” terbitan sore hari. Apalagi setelah  wafatnya  Ibu Tuti Azis sebagai  pucuk pimpinan di media  terbitan Surabaya itu  tak satu pun pewarisnya  mampu mempertahankan “performance” yang sudah dibangun oleh almarhumah bersama almarhum suaminya  Pak Azis. Bahkan Koran  yang mampu “mewarnai’  dunia perpolitikan, social dan ekonomi di Bumi Brawijaya itu nampaknya semakin tak berdaya setelah kepemilikan berpindah tangan ke “milyuner  Indonesia” Aburizal Bakrie Ketua Umum DPP Partai Golkar.

Kepak sayap Jawa Pos tidak hanya besar dan berpengaruh di Jawa Timur, tapi hampir di seluruh Indonesia. Koran ini bahkan bisa dibaca pagi hari di Dili Timor Timur (Timtim) waktu sebelum memerdekaan diri ketika itu. Jadi, hampir seluruh belahan Indonesia  timur dapat melihat apa saja berita yang disajikan korannya Dahlan Iskan ini.

Munculnya ide kerjasama dengan media-media cetak local  dan lahirnya ide Koran Radar di seluruh pelosok Nusantara, bukan saja sebagai  “ide jenius” dari sosok  Dahkan Iskan yang memang  “gila kerja”, tapi  media cetak  yang diajaknya bekerjasama itu  mampu menguasai  daerah yang bersangkutan bahkan sampai ke provinsi  tetangganya seperti  Sumatera Express (Sumex) terbitan Palembang mudah diperoleh  di  Lampung, Jambi  dan Riau.

Setelah itu  masuk era Radar yang menjadi  “idola bacaan” di  daerah-daerah  yang jauh dari Ibukota  RI maupun  provinsi  seperti  Radar  Bogor, berhasil meraih  pembaca-pembaca sibuk yang bekerja di  ibukota DKI Jakarta.

Di Jawa Barat bukan hanya hadir Radar Bogor, tapi bermunculan Radar-Radar lainnya seperti  di Tasikmalaya, Cirebon, Sukabumi, Bandung dan terakhir di Sumedang dengan Koran Sumedang Expresnya. Kehadiran  media Jawa Pos Group ini  memang  membuat  “ketar ketir”  media besar  terbitan Bandung maupun Jakarta. Akhirnya Kompas Group tak mau kalah dengan menerbitkan Koran Tribun Jawa Barat.

Kini  muncul  “kekuatan baru” di Indonesia belahan barat dengan hadirnya kelompok  Haluan  yang menerbitkan  Koran Haluan Kepri, Haluan Sumbar dan  Haluan Riau. Di lihat dari sisi positifnya, kehadiran media  yang “meniru konsep”  Dahlan Iskan ini membuat  masyarakat  senang karena banyak  pilihan. Nampaknya berita  Kepala Desa korupsi atau jembatan desa ambrukpun bisa dimuat dan akhirnya menjadi  pembicaraan ramai masyarakat di daerah tersebut.

Di  Jakarta, Jawa Pos Group  sangat  sukses  “mengadopsi” Harian Merdeka  BM Diah dan akhirnya menerbitkan sendiri  Koran Rakyat Merdeka yang kini menjadi  “santapan harian” dan bacaan wajib parpol, tokoh-tokoh terkemuka lintas agama, poltikus terkemuka, ekonom terkemuka, pakar hukum terkemuka,  wakil-wakil rakyat  DPRD se jabodetabek maupun di DPR RI. Meskipun  kalangan jurnalis senior di Ibukota RI Jakarta Raya menilai “pencaplokan” Harian Umum Merdeka” dan menjadikannya Harian Rakyat Merdeka”, kurang etis dan melanggar etika.

Pengungkapan  fakta di atas adalah cerminan seorang Dahlan Iskan yang kini mendapatkan kepercayaan sebagai  Dirut PLN (Perusahaan Listrik Negara) dan kini menggantikan Mustafa Abubakar sebagai Menteri BUMN.  Walaupun  organ-organ pentingnya  sudah cangkokan semua. Bahkan kono sudah cuci darah secara rutin. Namun sosok  Wong Jawatimuran ini selalu menuai  “controversial”.

Pada awalnya dia ditentang oleh SP PLN bersama  puluhan manajer di perusahaan “Merah Putih” yang hidup  selalu di subsidi pemerintah itu. Tapi tangan dingin sosok Dahlan Iskan, akhirnya mampu menjinakkan para penentangnya. Untuk pertama kalinya, tahun 2010 dibawah kepemimpinannya PLN bisa  mengurangi  subsidi sebesar Rp.5 triliun dari Rp.65 triliun yang biasa diterimanya.

Menurut  karyawan PLN, masuknya Bos  Jawa Pos Group  itu telah membawa  pembaharuan, perubahan dan penyegaran bagi  PLN. Upacara setiap tanggal 17 setiap bulan, dihapus. Rapat-rapat diefisiensikan jika tidak terlalu urgen, tidak harus dihadiri  direksi. Pemberian cinderamata dan piagam dihentikan. Meski pun gaji tidak naik. Karyawan merasa senang.

Namun bonus-bonus atas keberhasilan meningkatkan kinerja diberikan sebagai  hak karyawan yang berprestasi. Perjalanan dinas dikurangi. Lalu pembangunan pembangkit listrik  tenaga hidro dan surya digenjot untuk melayani sekitar  35% penduduk negeri  ini yang belum mendapat  aliran listrik. Tarif listrik di Takengon Aceh Tengah disamaratakan Rp.25.000 per bulan.

Dahlan Iskan, selama kepemimpinannya di PLN tidak pernah mengambil  gajinya. Ke kantor  sambil lari pagi diikuti  supirnya dari belakang. Komentarnya, kebetulan rumah saya  dekat dengan kantor. Biar sehat  jalan kaki  saja. “Lalu buat apa saya mengambil  gaji saya di PLN ? Wong saya sudah kaya. Saya sehat saja  sudah puji Tuhan,” katanya kepada karyawan PLN dan teman-teman dekatnya.

Soal makanan, sosok  pemilik sejumlah  pembangkit listrik swasta ini juga gak “neko-neko”. Tapi lidah Jawanya, memang membuat dia suka dengan Pecel Lele misalnya atau tahu petis. “Pokoknya baru kali ini kami punya direksi yang aneh dan unik. Ke mana-mana menggunakan mobil pribadi Mercedes  L-1 JP. Rumah juga rumah pribadi. Mobil dinas dan rumah dinas, tidak diambilnya,” ungkap karyawan PLN yang bekerja di anak perusahaan Indonesia Power di Jl.Gatot Subroto Jakarta Selatan.

Yang  stress adalah karyawan yang biasa dengan  pemberian fasilitas kantor, mempertahankan birokrasi  yang membuat lama urusan yang harusnya bisa  selesai cepat. “Dahlan Iskan juga tidak segan-segan memecat karyawannya yang kedapatan merugikan perusahaan. Baru-baru ini lima karyawan PLN di  Tangerang di pecat karena ketahuan kerjasama dengan sejumlah pabrik  mencuri listrik PLN,” tutur seorang karyawan yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Sosok Dahlan Iskan juga tak segan-segan turun jemput bola jika mendapati  keluhan pelanggan PLN. Belum lama ini di Depok, dia langsung bertanya kepada warga di sana. Mengapa listrik mereka selalu mati.  Setelah dicermati, ternyata  Gardu Listrik  yang harusnya hanya  untuk 100 rumah pelanggan dipasang untuk lebih dari 200 rumah. Pantas saja listriknya sering mati. “Akhirnya Dahlan Iskan meminta  stafnya  untuk membangun sebuah gardu listrik lagi agar tidak terjadi  byarr  prêt lagi,” ungkap karyawan PLN ini.

Untuk mempermudah  masyarakat  memasang listrik, PLN kini tidak mengenakan biaya pasang lagi untuk listrik prabayar. Setiap ada permintaan pasang baru, langsung dikerjakan. Tidak menunggu berhari-hari. Karena selama ini waktu tunggu itu yang dimanfaatkan oknum karyawan PLN meminta uang kepada masyarakat.

Pasokan gas yang kurang juga dikritisi sosok Dahlan Iskan. Dia minta PN Gas untuk menambah pasokan dan tidak ingin diatur oleh pembeli luar negeri. “Kita yang punya gas kok mau diatur pembeli  asing. Kita yang  seharusnya mencukupi  diri kita sendiri. Baru gasnya di ekspor,”  kata penulis otobiografi  Karmaka Suryaudaya tokoh pendiri  Bank NISP Bandung  ini.

Dahlan Iskan kini telah “menoreh tinta emas” membalas kepercayaan pemerintah atas penunjukannya sebagai  Dirut PLN. Bahkan awalnya isu santer yang beredar Bos Jawa Pos Group ini akan mendapatkan kepercayaan pemerintah sebagai Menteri ESDM dalam rencana “Rushuffle Kabinet” SBY-Boediono. Tapi ternyata dia diangkat sebagai  Menteri BUMN.

Melihat  kiprah  Dahlan Iskan sampai dia menjabat  Dirut PLN dan Menteri BUMN, memang dibutuhkan karakter  pekerja keras, jujur dan professional seperti dia di negeri  ini. Ingat  dengan sosok Dahlan Iskan, kita akan teringat dengan sosok  almarhum Cacuk Sudarijanto  yang  membawa perubahan mendasar di perusahaan “Merah Putih” PT.Telekomunikasi Indonesia  (Telkom) Tbk 1988-1992.

Calo-calo telepon dibabat habis, karyawan yang terlibat dipecat, kesejahteraan karyawan ditingkatkan dan infrastruktur  jaringan telekomunikasi dibangun di seluruh pelosok tanah air. Sampai saat ini belum ada pengganti  sekaliber  almarhum  Cacuk Sudarijanto di PT.Telkom Tbk. Walaupun kini BUMN ini dipimpin CEO Terbaik Nasional  Rinaldi Firmansyah.

Karena itu kita berharap ke depan akan lahir Dahlan Iskan-Dahlan Iskan baru  lainnya, yang  dapat membawa  negeri  yang kaya raya dengan 230 juta jiwa penduduk ini  menjadi  salah satu Negara maju, makmur  dan sejahtera  di jagat ini. Sukses Dahlan Iskan adalah Suksesnya Profesi  Jurnalis di Republik Indonesia yang tercinta  ini. Selamat Untuk  Mas Dahlan Iskan.  Kiranya  Allah SWT  selalu memberikan kesehatan yang prima kepada Mas Dahlan Iskan. Amin ya Roball Allamin !

E’mail : budianto_erry@yahoo.co.id