Pencarian
Politik & Keamanan
- AMIEN RAIS MINTA KADER DAN TOKOH PARTAI TIDAK SALING JEGAL (17-05-2012)
- AKBAR TANJUNG : JK LAYAK UNTUK MENJADI CAPRES 2014-2019. (17-05-2012)
- JK MASIH DIANGGAP CAKAP OLEH AKBAR TANJUNG SEBAGAI CAPRES 2014-2019. (17-05-2012)
Ekonomi & Bisnis
- ARIEF YAHYA : CORPORATE UNIVERSITY HARUS BISA DIWUJUDKAN DALAM TIGA BULAN PERTAMA (21-05-2012)
- RUPIAH SEMAKIN MELEMAH DAMPAK PEREKONOMIAN EROPA YANG TIDAK MENENTU (21-05-2012)
- MINYAK MENTAH DUNIA TURUN TAJAM, SEHARUSNYA HARGA BBM JUGA TURUN. (21-05-2012)
Olahraga & Kesehatan
- SERGIO AGUERO PEMAIN TERBAIK CITY (21-05-2012)
- BINTANG CITY, SERGIO AGUERO AKAN MENJADI “PEMAIN LEGENDA” (21-05-2012)
- ROBERTO DI MATTEO DIPASTIKAN AKAN TETAP DIKONTRAK CHELSEA (20-05-2012)
Berita Daerah
- BERENCANA TERBANG DI MALAM HARI, Kategori:Berita Utama, Ekonomi & Bisnis, Daerah (10-05-2012)
- WARGA DEPOK ASAL SUL-SEL HADIRI DAN SAMBUT HUT KE 13 KOTA DEPOK JABAR, Kategori:Berita Utama, Olahraga & Kesehatan, Daerah (30-04-2012)
- WARGA DEPOK ASAL SUL-SEL HADIRI DAN SAMBUT HUT KE 13 KOTA DEPOK JABAR, Kategori:Berita Utama, Olahraga & Kesehatan, Daerah (30-04-2012)
FASILITAS SPEEDY WIFI MENARIK MINAT PENGUNJUNG KEDAI KOPI DI BANDA ACEH
LAPORAN : H. ERRY BUDIANTO
ACEH - SURABAYAWEBS.COM
“Pengguna internet kecepatan tinggi paling besar ARPU tiap bulannya di Indonesia yang tercinta ini hanya di Banda Aceh. Hampir semua Kedai Kupi yang jumlahnya ribuan, menggunakan Speedy wifi untuk menarik pelanggannya,” tutur Asep Tatang Manager Purel Customer Telkom Jawa Barat yang pernah bertugas di Banda Aceh.
Mendengar cerita Asep Tatang yang merupakan putra Asgar (Asal Garut) Jawa Barat yang kini tengah menunaikan ibadah haji bersama isterinya itu aku begitu sangat “penasaran”. “Yang bener, Kang. Pasalnya, aku selama ini tahu bahwa pelanggan Speedy dengan ARPU paling tinggi adalah Makasar Sulawesi Selatan,” ujarku mencoba membantah.
Karena aku pernah menulis berita di media online tempat aku bekerja Surabayawebs.com atas penjelasan langsung Manager Area CR Telkom Makasar waktu itu Pak Umam yang kini di Semarang Jawa Tengah bahwa Makasar merupakan pelanggan Speedy dengan pembayaran tiap bulannya (ARPU) tertinggi di Nusantara ini.
Ternyata memang tidak terlalu salah pengetahuanku tentang ARPU Speedy ini. Makasar Sulsel menempat posisi pertama ARPU Speedy plus telepon tetap. Sementara Banda Aceh menyabet posisi ke tujuh. Tapi untuk pelanggan Speedy, Banda Aceh yang berpenduduk sekitar 224.000 jiwa menyumbangkan ARPU terbesar ke kocek operator telekomunikasi kelas dunia PT.Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk.
Oleh sebab itu aku mencoba mencari sponsor yang bisa membiayai perjalanan ke Ibukota Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Akhirnya, Pak Tri Jatmiko yang menjabat Senior GM Customer Telkom Wilayah Barat, menyetujui keberangkatanku ke Banda Aceh.” Tapi ongkosnya hanya sampai di Medan, Pak Erry,” ujar mbak Ninong yang menempati posisi Sekretaris Customer Telkom Wilayah Barat seminggu sebelum aku berangkat ke “Negeri Serambi Indonesia” itu.
Biaya yang secukupnya sampai Medan itu membuat aku menghitung-hitung. Setelah berpikir sejenak, akhirnya aku menyetujui. Juga aku menyetujui isteriku Elly Suryati untuk ikut karena ibunya anak-anakku ini merupakan puteri asal Takengon Aceh Tengah. Tentunya terpaksa menggunakan dana tambahan dari tabunganku di Bank Mandiri.
Untuk berhemat, aku menggunakan angkutan travel L-300 dari Medan ke Banda Aceh. Selama di Banda Aceh, aku dan isteriku menginap di rumah saudaraku Mahdi di Perumahan Villa Citra Chik Dipineung Banda Aceh. “Duh, kesampaian juga harapan dan cita-citaku mengunjungi Banda Aceh pasca bencana alam gempa bumi dan tsunami di “Negeri Cut Nyak Din” itu,” kata hatiku sesaat pesawat Lion Air tepat pukul 14.00 WIB membawa kami dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Tangerang Banten menuju Bandara Polonia Medan Sumatera Utara, Sabtu 24/9.
Tiba di Medan sekitar pukul 16.20 WIB, kami dijemput saudara kami Ilham dan langsung menuju rumah Makpun Anwar, orang tuanya Ilham di Jalan Pembangunan III Galugur Darat Kota Medan. Sementara itu Anom putrinya Makpun sudah mencarikan angkutan travel ke Banda Aceh, malam itu juga. Usai menunai sholat Magrib dan sholat Isa, kami berangkat ke Banda Aceh melalui jalan raya yang relative mulus.
Pukul 10.00 WIB esoknya Minggu 25/9 kami tiba di rumah saudara kami Mahdi-Ayuk-Ata di Perumahan Villa Citra Chik Dipineung Banda Aceh. Seharian, kami gunakan untuk istirahat karena begitu melelahkannya perjalanan darat dari Medan ke Banda Aceh. Pinggang ini terasa sangat pegal.
Hari Senin 26/9 mulailah aku berpetualang bersama adekku Mahdi menyinggahi Kedai-Kadai Kupi yang sebagian besar menyebutkan dirinya Caffe. Sayang malam itu bukan malam minggu. Menurut Mahdi kalau malam minggu, Kedai-Kedai Kupi itu penuh sesak dikunjungi manyoritas anak muda sambil membuka lattop (computer jinjingnya) bersantai-santai mengakses internet lewat facebook atau twitter mengunjungi sahabat atau teman-temannya di belahan dunia lain di Eropa, Amerika maupun di Jepang dan China. Termasuk di negeri sendiri, Indonesia.
Speedy wifi yang disediakan gratis oleh sponsor seperti rokok Sampoerna, Gudang Garam dan Djarum Kudus itu betul-betul merupakan daya tarik bagi kawula muda Banda Aceh terutama yang tengah menuntut ilmu di Universitas Negeri Syah Kuala. IAIN Ar Raniry, Universitas Muhammadyah, Universitas Serambi, Politehnik Negeri Aceh di kota yang sangat kental “nuansa islamnya” ini.
Apalagi di Banda Aceh ini tidak terdapat satupun gedung bioskop seperti di Medan. Artinya, hiburan generasi muda anak bangsa di sini selain mengunjungi Pantai Ulee Lheue, menyaksikan matahari terbenam sambil melahap jagung bakar, memang paling asyik berSpeedy-ria di Kedai-Kedai Kupi sambil mengakses dunia maya dan minum kupi yang hangat nikmat beraroma khas kupi Gayo.
« Kalau sudah duduk berarti minum kopi dan mencicipi makanan ringan yang disajikan KedaI Kupi, » jelas Mahdi.
Kawula muda ini bisa berjam-jam bermain di dunia maya. Mereka nampak sangat asyik bercengkerama sambil bergurau, minum kupi yang disajikan dalam cangkir kecil dan melahap makanan ringan atau kacang goreng yang gurih. Harga secangkir kupipun tidak terlalu mahal, Cuma Rp.5000,-an.
Menurut seorang mahasiswa Syiah Kuala Banda Aceh, M.Ridwan yang kami temui di Caffe De’Helsinki di Simpang Lima di Ibukota Provinsi NAD itu mereka mencari informasi melalui internet, tentang apa saja yang bermanfaat bagi kepentingan studi mereka.
« Kalau bulan tua seperti sekarang ini kami main kemari sambil mengakses internet melihat apa yang menjadi isu nasional maupun internasional. Tapi kami tidak mengakses sajian porno di dunia maya ini. Namun kami tahu banyak ragam informasi. Termasuk pernyataan Wagub Aceh yang mengatakan sekitar 20.000 warga Aceh pindah agama. Ini kan sangat memprihatinkan,” tuturnya kemudian.
Caffe De’Helsinki yang buka sejak pukul 10.00 WIB itu sama seperti Kedai-Kedai Kupi lainnya seperti Yellow Caffe, Corner Caffe yang berada di Simpang Lima Banda Aceh, jika bukan malam minggu, memang agak sedikit sepi pengunjungnya. Lebih sepi lagi Kedai Kupi yang tidak menyediakan Speedy Wifi. “Gak lakulah kalau gak ada Speedy wifi,” ungkap Mahdi saudaraku yang selalu menemani mengunjungi Kedai-Kedai Kupi di Banda Aceh.
Bahkan di Banda Aceh dengan Masjid Raya Baiturahman di mana saat tsunami terjadi mayat-mayat bergelimpangan, terdapat Kedai Kupi khusus kalangan birokrat, teknokrat, legislative, pengusaha dan eksekutif terkemuka dari Aceh maupun yang berdatangan dari kota-kota lain seperti dari Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Surabaya atau dari Makasar. Sayangnya waktu yang mepet, tidak menyempatkan aku mengunjungi Caffe yang harga secangkir kupinya cukup mahal tersebut.
Bukan Banda Aceh jika tidak ada Kedai-Kedai Kupinya. Sama halnya, bukan kota Banda Aceh kalau gak ada Mesjid Raya Baitulrahmannya. Dan, jangan coba-coba mencari Caffe Starbuck di kota ini. Gak bakalan ada. Sebab kalau pun ada, gak bakalan laku. Kalah bersaing dengan Kedai-Kedai Kupi yang menyajikan Kopi Gayo yang beraroma luar biasa sedapnya. Sementara Starbuck di seluruh belahan dunia ini kopinya adalah kopi Gayo yang berasal dari Aceh Tengah.
Adanya Warung-Warung Kupi yang juga memasang Speedy wifi, membuat pendapatan Telkom Customer Area Aceh cukup “menjanjikan”. Hal ini diakui Manager Telkom CS Area Aceh Muhammad Salmi. “Alhamdulillah dengan ARPU rata-rata Rp.242.000 per bulan termasuk rekening bulanan telepon tetap, kami menempati posisi ke tujuh ARPU se Indonesia dari 69 area yang ada dari Sabang sampai Merauke,” ungkapnya kemudian.
Dengan prediksi pelanggan Speedy mencapai sekitar LIS 15.000 sampai akhir tahun khusus di Banda Aceh, diharapkan pemasaran internet kecepatan tinggi produk andalan Telkom ini bisa mencapai di atas 100%. “Tugas kami menjual Speedy sebanyak-banyaknya,” tegas Salmi. Penduduk Aceh sekitar 4,5 juta jiwa dan Banda Aceh memiliki 224.000 penduduk.
Namun diakuinya, karena bagian lain yang mengatasi kerusakan, agak repot juga. Tingkat gangguan masih di atas 5%. Hal ini karena adanya proyek-proyek infrastruktur seperti pembangunan jalan baru, pelebaran jalan. Galian-galian itu yang menjadi gangguan bagi Telkom di Aceh. Khususnya di kota Banda Aceh.
“Di jaringan akses, musuhnya adalah kualitas. Dulu jika ada kabel telepon rusak kena galian tanah, PU menggantinya. Tapi kini PU tidak lagi memberikan ganti ruginya. Musuhnya di Aceh ini adalah kualitas, bukan competitor seperti di Jakarta, Bandung atau di Surabaya,” jelas Salmi.
Di Aceh, cost akibat kerusakan sangat tinggi. Pasalnya setiap kerusakan yang ditimbulkan dari galian jalan, Telkom harus memindahkan kabelnya sendiri. “Agak repot juga di Aceh ini,” akunya pula. Terlebih, katanya, jika Gubernur Aceh menanyakan, berapa banyak mitra binaan UKM yang dibantu permodalan di Aceh atau “orang pertama” di Serambi Indonesia itu menanyakan proyek-proyek bina lingkungan apa saja yang sudah dan akan dilakukan Telkom di Aceh.
“Saya bingung menjawabnya karena manager CDC berada di Medan. Di Banda Aceh ini Cuma ada Asmannya saja. Idealnya Asman CDC di Ibukota Propinsi Nangroe Aceh Darussalam ini berada di bawah Manager Area CR Telkom Aceh bukan di Medan ,” katanya penuh harap dan penuh kejujuran yang hakiki serta masuk akal.
Keterbatasan personil di Banda Aceh membuat pemasaran kurang aptimal dan hal ini merupakan tantangan. Namun dalam “keterbatasan itu” Telkom Area Aceh mampu meraih posisi ARPU ke tujuh dari 69 area se Indonesia. Posisi ARPU gabungan Speedy dan Wireline ini posisi pertama diraih Makasar, Ke dua, Jayapura, ke tiga Sumut, ke empat Denpasar, Ke lima Jakarta Utara, ke enam Pare-Pare dan ke tujuh adalah Banda Aceh.
Akan tetapi dengan semakin akrabnya Speedy di masyarakat di tanah air, bahkan di Takengon Aceh Tengah dari puluhan Kedai Kupi, kini terdapat Kedai Kupi Batas Kota dan Central Kupi yang menggunakan Speedy Wifi untuk para pengunjungnya. Insya Allah target operator telekomunikasi terkemuka ini untuk menggaet 4 juta pelanggan akhir tahun 2012 akan berhasil. Semoga Telkom tetap jaya. Amien !
Berita Utama Terbaru
- ARIEF YAHYA : CORPORATE UNIVERSITY HARUS BISA DIWUJUDKAN DALAM TIGA BULAN PERTAMA (21-05-2012)
- RUPIAH SEMAKIN MELEMAH DAMPAK PEREKONOMIAN EROPA YANG TIDAK MENENTU (21-05-2012)
- MINYAK MENTAH DUNIA TURUN TAJAM, SEHARUSNYA HARGA BBM JUGA TURUN. (21-05-2012)
- SERGIO AGUERO PEMAIN TERBAIK CITY (21-05-2012)
- BINTANG CITY, SERGIO AGUERO AKAN MENJADI “PEMAIN LEGENDA” (21-05-2012)
- LANGKAH MENGUNDURKAN DIRI AKAN DITEMPUH DIREKSI MERPATI AIRLINE ? (21-05-2012)
- PRANCIS TARIK PASUKAN LEBIH AWAL, PRESIDEN OBAMA MENYATAKAN PERLU KERJA KERAS DI AFGANISTAN (21-05-2012)
- AMERIKA KHAWATIRKAN KONDISI MASYARAKAT MADANI DI SELURUH DUNIA YANG TERANCAM PENGUASA (21-05-2012)
- ROBERTO DI MATTEO DIPASTIKAN AKAN TETAP DIKONTRAK CHELSEA (20-05-2012)
- JUARA LIGA CHAMPIONS DI MATA JUAN MATA DAN FERNANDO TORRES (20-05-2012)
