PESAN DAMAI DARI YOGYAKARTA BERSAMA SARIWANGI MOBIL MUDIK 2011.

Tanggal : 9-09-2011, Kategori : Berita Utama, Sorot Tokoh, Daerah, Bandung, Yogyakarta, Sorot


Kerukunan beragama sudah seharusnya tercipta dari Papua sampai Nangroe Aceh Darussalam (NAD) di Indonesia yang memiliki 225 juta jiwa lebih penduduk dan 17.000 lebih pulau di « Negeri Katulistiwa » ini. Aliran radikal selalu mengganggu ketenangan negeri nan elok yang  cantik  ini dengan tidak memperdulikan bahwa « perbedaan itu indah ».

Terjaganya kerukunan beragama, terlihat jelas dari gambaran kehidupan warga Yogyakarta selama kami berada di « Kota Gudeg » ini dari Sabtu 27/8 sampai 1/9 bersama SariWangi Mobil Mudik 2011. Hari Senin 29/8, saat diumumkan melalui Mesjid, kabar duka atas wafatnya dua warga non muslim. Maka penduduk Muslim beramai-ramai mengurus berbagai hal menyangkut prosesi pemakaman. « Kami memang selalu penuh toleransi terhadap siapa pun warga di Nyutran Taman Siswa ini, » ungkap keponakanku Budi yang rumahnya menjadi tujuan mudik lebaran kami dari Bandung.

Sekaligus dua warga non muslim kembali kepangkuan Allah SWT, membuat jalan kecil menuju rumah Budi ditutup sementara. Budi menganjurkan jika kami akan ke luar sebaiknya menggunakan gang kecil alternatif yang agak memutar menuju jalan raya.

Hari itu juga jenazah warga yang meninggal dunia menjelang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 Hijriah itu dimakamkan di Pemakanan Kristen di Imogiri. Warga Muslim membaur bersama pemeluk agama lainnya mengantarkan jenazah menuju ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Semua nampak ikut berdukacita yang dalam.

Esoknya saat ummat muslim Muhammadiyah merayakan « Hari Kemenangan » setelah sebulan penuh Berpuasa », warga non Muslim beramai-ramai memberikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijiriah Mohon Maaf Lahir Batin sambil bersalam-salaman membentuk barisan panjang seperti semut. Semua nampak gembira dan saling peluk penuh rasa kasih sayang dalam acara Silaturahmi Halalbihalal tersebut.

Kami yang mengikuti pengumuman pemerintah bahwa Lebaran 2011 jatuh pada tanggal 31 Agustus, bersama warga lainnya yang akan melaksanakan sholat IED esok hari, ikut berbaur bersama memberikan ucapan Selamat Lebaran Mohon Maaf Lahir dan Batin. Sementara anak-anak kecil berlarian, kejar-kejaran menambah semarak suasana perayaan Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriah di « Ngayogyakarto ».

Menurut penulis terkenal di Yogyakarta, Achmad Charris Zubair dalam tulisan panjangnya di sebuah media cetak di Yogyakarta berjudul « Islam Sebagai Pembawa Damai dalam Kemajemukan », melalui proses-proses intrinsik, Islam meletakkan rasa damai dan kesadaran tentang perdamaian, sebagai pilar dari budaya tentang tata cara hidup manusia (a culture of peace) di tengah-tengah kehidupan masyarakat manusia yang kompleks.

Menurut dia, budaya damai adalah proses dan kondisi tentang konfidensi bersama, guna mempromosikan kehidupan yang sopan, yang didalamnya kekerasan sebagai kategori (yang pada dasarnya) ditolak. Sedangkan dinamika dan kreasi tata hidup sosial manusia bebas di tengah masyarakat dunia, didorong melalui ajaran tentang kemanusiaan spritual pada tingkat tinggi.

Prinsip yang ditekankan adalah hidup bersaudara dengan rasa kasih sayang, menegakkan keadilan serta tidak melampaui batas. Bagi seluruh ummat manusia, mereka yang mulia dihadapan Tuhan hanyalah yang paling bertaqwa kepada Allah SWT.

Agama cenderung memperlihatkan impuls-impuls kerohanian sebagai benih primer kedamaian yang bersumber dari ajaran keTuhanan dan tidak dipengaruhi cara berproduksi system social tertentu. Dengan caranya agama mendefifinisikan kembali kehidupan manusia dan mendorong hidup damai dalam suatu kerangka pikir logis, melalui pesah-pesan kewahyuan dan pengalaman budaya.

Pesan yang dalam Islam disebut hablun minallah dan hablun minannas, dimaksudkan agar manusia melakukan transformasi pribadi. Yakni menyegarkan ruang kesadaran jiwa dan alam pikiran dalam melihat kehidupan guna memusatkan perhatian pada masalah kemanusiaan yang mendesak. Sehingga pada taraf yang terakhir, fungsi agama adalah untuk penyelamatan manusia.

Kehidupan penuh toleransi dan kerukunan beragama di Yogyakarta, dimanifestasikan dalam bentuk semangat gotong royong dan nasionalisme yang tinggi. Hal ini terlihat nyata saat kami melaksanakan sholat IED 31 Agustus 2011 di Mesjid Golo yang berjarak sekitar 1,5 km dari rumah keponakan kami. Pasalnya sementara kami dengan tenang dan nyaman mendengar Imam merangkap Katib, berceramah tentang Hari Raya idul Fitri 1 Syawal 1432 Hijriah, warga non Muslim bersama warga Muhammadiyah menjaga parkir mobil dan motor.

Usai sholat IED kami bersilatuhrahmi bersalaman mohon dimaafkan lahir dan batin atas segala dosa-dosa kami sesama muslim. Warga non Muslim dengan antusias yang tinggi juga bersalam-salaman dengan kami mengucapkan Selamat Lebaran dan Mohon Maaf lahir Batin. Duh, indahnya berlebaran di Yogyakarta.

Kami teramat bersyukur atas rejeki yang diberikan Allah SWT melalui SariWangi Mobil Mudik 2011, bisa berlebaran dua kali di Yogyakarta. Kami sekeluarga juga bisa melihat langsung dengan mata kepala sendiri bahwa “Kerukunan Beragama” di Yogyakarta, betul-betul fakta yang nyata.

Pesan “Damai” dari Yogyakarta, hendaknya lebih memperkokoh semangat juang dan nasionalisme Bangsa Indonesia dalam tali silaturahmi menghapus kemiskinan dan mensejajarkan diri dengan Negara-negara maju di dunia ini. Amin ya Roball Allamin ! (H.Erry Budianto).