PILOT- MANAJEMEN GARUDA INDONSIA AKHIRNYA PILIH JALAN DAMAI.


LAPORAN : H.ERRY BUDIANTO

JAKARTA-SURABAYAWEBS.COM

Mogok terbang pilot pesawat  Garuda yang dikoordinir Asosiasi Pilot Garuda (APG) berjalan setengah hari dari rencana  sehari penuh. Kedua belah pihak yang bertikai, Pilot dan Manajemen Garuda Kamis 28/7 akhirnya berdamai setelah difasilitasi Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar. Meski aksi mogok tersebut sempat berjalan setengah hari. 

Namun walaupun  kedua belah pihak, baik manajemen Garuda dan APG sudah mencapai kata sepakat untuk menghentikan mogok dan maju ke meja perundingan,  peluang terjadi mogok susulan bisa saja terjadi, jika tidak tercapai kesepakatan yang saling menguntungkan kedua belah pihak yang bertikai. 

Akibat aksi mogok terbang setengah hari itu sejumlah penerbangan yang tertunda di pagi hari sudah dapat melanjutkan perjalanannya di siang hari sehingga sejumlah komplin dari penumpang  yang sudah mulai muncul di sejumlah Bandara pada pagi itu otomatis berakhir.

Alhamdulillah, tidak terlihat lagi ketegangan calon-calon penumpang  Garuda setelah aksi mogok itu berakhir siang hari. Sebelumnya, di pagi hari, banyak penumpang yang marah-marah ketika pesawatnya ditunda terbang karena  pilotnya lagi melakukan aksi mogok terbang..

 Di sejumlah daerah kemarahan penumpang itu dilampiaskan dengan melakukan ‘’sweeping’’ pilot Garuda untuk dipaksa menerbangkan pesawat melayani penumpang. Tapi  aksi penumpang yang marak ini  tidak  membawa hasil karena profesi pilot tidak boleh bekerja di bawah tekanan pihak lain. 

Dirut Garuda Emirsyah Satar yang sebelumnya sulit ditemui wartawan terlihat saling berpelukan dengan Stephanus Gerardus sebagai Presiden APG di Kantor Garuda Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. Itulah yang menandakan  mogok pilot yang digelar APG berakhir. Tapi  tidak dirinci berapa poin dari tuntutan APG yang disetujui manajemen Garuda.  Sehingga aksi mogok susulan bisa saja terjadi jika tuntutan paling esensial dari APG tidak direalisasi.

 Kekuatan kedua belah pihak bisa dianggap imbang. Lain hal kalau anggota APG  yang mencapai 800 pilot itu lebih banyak yang solidaritas ketimbang yang tidak mogok. Yang menyebabkan  pihak manajemen dapat melakukan tindakan tegas, menindak pilot-pilot yang mogok secara sepihak karena dianggap merugikan perusahaan dan penumpang yang sudah booking tempat duduk untuk berbagai tujuan di tanah air..
Tuntutan kesetaraan dan kesamaan  gaji pilot lokal dengan pilot asing sangat tepat jika memang jauh di bawah pilot kontrak dari negara asing. Sudah selayaknya pilot lokal pun dihargai, setidaknya sama dengan gaji pilot asing, karena kemampuan dan jam terbangnya memang sama. Lain hal jika kemampuan pilot asing itu lebih tinggi sehingga pilot maupun co. pilot kita dapat belajar dari mereka. Ini gak. Kemampuan pilot asing itu malah jauh di bawah pilot Indonesia.

Sebaiknya,  perundingan nanti perlu dipertegas masalah penggajian pilot lokal ini. Sebab, dari sekian banyak masalah yang mencuat, masalah gaji pilot lokal ini yang paling krusial. Jauh melebihi masalah lain yang terkait dengan perjanjian kerja bersama (PKB)  hubungsn kerja industrial Pancasila yang sejak lama sudah menyimpan banyak masalah untuk dikaji ulang supaya saling menguntungkan bagi perusahaan dan karyawan

Jika memang  terbukti selama ini pilot lokal Garuda digaji lebih rendah, maka pasca aksi mogok kemarin pihak manajemen Garuda wajib menghargai kemampuan pilot lokal agar setara dengan pilot asing. Mengagung-agungkan pilot asing tidaklah tepat. Seharusnya pihak manajemen Garuda bangga dan memberi gaji setara dengan pilot asing sebagai apresiasi dan nasionalisme. Dengan begitu semakin banyak saja nanti putra-putri anak bangsa kita yang mau menimpa ilmu sebagai pilot  Apalagi hampir seluruh maskapai penerbangan di tanaha air yang kini beroperasi, jelas-jelas kekurangan Pilot. Ini dibuktikan dengan penawaran pemberian beasiswa pendidik pilot  oleh Batavia Air, Lion Air dan sejumlah penerbangan lainnya.

Patut kita simak ,  adalah klaim dari manajemen Garuda bahwa sesungguhnya penghasilan total pilot lokal sudah di atas pilot asing. Total penghasilan pilot lokal katanya sudah mencapai mencapai Rp 71 juta, sementara pilot asing Rp 68,8 juta/bulan. Angka Rp71 juta per bulan jelas sudah tinggi karena melebihi gaji seorang menteri dan gubernur/kepala daerah. Namun begitu, kebenaran gaji tersebut masih perlu diklarifikasi. Umumnya ditotal dari seluruhnya berupa gaji, bonus, tanggungan anak, fasilitas, asuransi dan sebagainya. Begitu pula dengan gaji pilot asing apakah yang Rp68,8 juta itu masih ditambah dengan berbagai tunjangan fasilitas lainnya yang nilainya tidak kecil ?

Aksi  mogok setengah jalan pilot Garuda ini menggambarkan kurangnya komunikasi antara pihak manajen dengan para pekerjanya, khusus pilotnya. Untuk itu perlu ditingkatkan  komunikasi yang selama ini mungkin tersendat karena adanya friksi-friksi dalam perusahaan.

Kalau  komunikasinya bagus maka berbagai masalah dapat diselesaikan dengan cepat dan baik Win Win Solution, saling menguntungkan. Artinya, jika perusahaan untung pastilah karyawan menikmati hasilnya juga. Sebaliknya jika kinerja perusahaan menurun semuanya akan merasakan akibatnya  juga.

Di masa yang akan datang,  masalah pemogokan sejatinya bisa  dihindari selagi masih terbuka jalan lain. Jangan mogok dijadikan “ikon” sehingga sedikit-sedikit bermasalah lalu lakukan aksi mogok. Pasalnya,  dampaknya bisa meluas dan negatif jika dikompori pihak ketiga. Tidak saja bagi perusahaan, tapi juga bagi masyarakat, dan juga citra Indonesia. Investor akan takut menanamkan modalnya jika mogok menjadi kegiat rutin yang menjemujkan dan mengewatirkan. Apalagi jika ditunggangi oleh pihak ke tiga yang menangguk di air keruh.

Jika memang  terbukti selama ini pilot lokal Garuda digaji lebih rendah, maka pasca aksi mogok kemarin pihak manajemen Garuda wajib menghargai kemampuan pilot lokal agar kesetaraan  dengan pilot asing tidaklah tabu. Mendewa-dewakan  pilot asing tidaklah tepat. Seharusnya pihak manajemen Garuda bangga dan memberi gaji setara dengan pilot asing sebagai apresiasi dan rasa  nasionalisme tinggi. Apalagi menjelang HUT Kemerdekaan RI ke 66 yang jatuh pada 17 Agustus 2011 mendatang. Diharapkan  semakin banyak saja nanti putra-putri anak bangsa kita yang mau menimpa ilmu sebagai pilot.

Sementara itu  klaim dari manajemen Garuda bahwa sesungguhnya penghasilan total pilot lokal sudah di atas pilot asing, patut dipertanyakan. Total penghasilan pilot lokal katanya sudah mencapai  mencapai Rp 71 juta. Sedangkan  pilot asing Rp 68,8 juta/bulan. Angka Rp71 juta per bulan jelas sudah tinggi karena melebihi gaji seorang menteri dan Gubernur KDH  Tingkat I . Benar atau tidak besaran  gaji tersebut masih perlu diklarifikasi. Umumnya,  ditotal dari seluruhnya seperti gaji, bonus jasa produksi, tanggungan anak, fasilitas sewa rumah, uang transport, asuransi dan tunjangan kesehatan.Begitu juga dengan gaji pilot asing apakah gaji sebesar  Rp68,8 juta per bulan  itu masih ditambah dengan berbagai fasilitas mengiurkan lainnya.

Baik pilot yang tergabung dalam APG maupun pihak manajemen hendaknya mengambil  hikmah dari aksi mogok setengah jalan pilot Garuda kemarin i dengan meningkatkan hubungan komunikasi yang selama ini mungkin tersendat karena adanya friksi-friksi dalam perusahaan. Kalau saja  komunikasinya bagus maka berbagai masalah dapat diselesaikan dengan cepat dan optimal, saling menguntungkan win-win solution. Di mana jika  perusahaan untung,  karyawan juga akan menikmati hasilnya. Sebaliknya jika kinerja perusahaan menurun semuanya akan merasakan dampaknya pula. Begitulah kata kunci Hubungan Industrial Pancasila yang jadi perekat antara pekerja dengan manajemen perusahaan di tanah air selama ini. Hubungan inilah yang sering dilanggar pihak manajemen/pemilik perusahaan. Khususnya sejak diberlakukannya system kontrak kerja atau outsourcing di Indonesia berdasarkan Undang-Undang No.13 Tahun 2003.

Di masa yang datang,  masalah pemogokan semestinya dihindari selagi masih terbuka jalan lain. Janganlah aksi  mogok dijadikan “jargon” para buruh, pekerja atau karyawan di Bumi Nusantara ini. Sehingga sedikit-sedikit bermasalah lakukan aksi mogok, karena dampaknya bisa meluas dan negatif jika dikompori pihak ketiga. Hal itu berlaku tidak saja bagi perusahaan, tapi juga bagi masyarakat, dan juga citra Indonesia. Investor akan takut investasi  jika mogok menjadi kegiatan yang manarik bagi “kaum pekerja”.Terlebih untuk Pemilu 2014 nanti, Tommy Soeharto nampaknya dijagokan oleh Partai Buruh sebagai calon Presiden RI. Untuk itu sebaiknya atur strategi yang mantap untuk menjoal kepentingan rakyat Indonesia menyongsong masa depan yang lebih baik lagi agar tingkat kesejahteraan rakyat sejajar dengan Negara-negara maju. Nah….