INDONESIA MENJADI PELOPOR MEMBASMI AEDES AEGYPTI DI DUNIA

Tanggal : 16-06-2011, Kategori : Berita Utama, Olahraga & Kesehatan, Sorot Tokoh, Jakarta

SEKARANG ATAU TIDAK SAMA SEKALI

 

Jakarta (15/6). ENAM JUTA manusia meninggal di seluruh dunia setiap tahun dalam tempo satu dasawarsa terakhir. Penyebabnya adalah serangga kecil bersayap paling ganas yang disebut Aedes aegypti penyebar virus demam berdarah yang berujung maut bagi manusia. The World Health Organization (WHO) mengisyaratkan, bahwa setiap 10 detik satu manusia kehilangan nyawanya karena demam berdarah, malaria, chikungunya, dan sebelas penyakit berbahaya yang ditularkan melalui sungutan nyamuk.   

       Penyebaran nyamuk pembawa virus demam berdarah itu harus dihentikan. Sebab, dengan membasmi Aedes aegypti berarti kita telah menyelamatkan jutaan bahkan milliar nyawa manusia. Karena itu, kita harus berbuat sekarang atau tidak sama sekali. Demikian ajakan Haryono  pendiri dan pengawas Yayasan Pikoli yang didirikannya untuk mencegah wabah virus demam berdarah.

       Untuk mewujudkan niat tersebut, Yayasan Pikoli membentuk wahana yang disebut ProyekZero. Manejer Yayasan Pikoli Francois Martin menjelaskan nama ProyekZero adalah program menjadikan Indonesia sebagai negara pelopor di dunia dalam hal mencegah kematian manusia dengan cara membasmi nyamuk.

      Semua upaya yang berkaitan dengan masalah memberantasan Aedes aegypti, Yayasan Pikoli tidak meminta uang dari siapapun. Malahan memberi bantuan biaya perawatan kepada para korban demam berdarah yang sedang dirawat di rumah sakit, disamping melakukan sosialisasi kiat pencegahan.

      Karena itu, baik Haryono maupun Francois sudah mengajak semua pihak bersatu dalam mewujudkan impian menjadi kenyataan, yaitu membebaskan rakyat Indonesia dari sungutan nyamuk mematikan. Pihak-pihak yang telah dihubungi dan menyatakan mendukung ProyekZero antara lain pisikolog Tika Bisono sebagai Duta ProyekZero “Bersama Yayasan Pikoli, kita selamatkan generasi penerus negeri ini dari musuh berwujud serangga bersayap kecil alias nyamuk,” kata Tika yang diucapkan ulang oleh Haryono.

      Putri Indonesia 2011, Astrid Ellena Indriana Yunadi bersedia mengatur jadwal kegiatan sosial yang diembannya, agar bisa bersama Yayasan Pikoli menjambangi Rumah-Rumah Sakit yang merawat korban demam berdarah.

      Kalangan Eksekutif dan Legislatif merasa tertantang sehingga mau ambil bagian dalam mensosialisasikan visi misi dan tujuan ProyekZero. “Kami mendukung karena pemberantasan nyamuk mempunyai dampak multi efek,” tutur Esthy R. Astuty Direktur Promosi dan Publikasi Kementerian Budpar. “Apabila hotel-hotel dan restoran-restoran bebas nyamuk, maka turis manca negara akan berdatangan ke Indonesia,” jelasnya. 

    Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Drs. H. Irgan Chairul Mahfiz juga mendukung usaha Yayasan Pikoli, dalam hal  sosialisasi pemberantasan nyamuk penyebar demam berdarah. Salah satu wujud dukungannya adalah memfasilitasi pertemuan pihak Yayasan Pikoli dngan Dirjen P2PL Kementerian Kesehatan RI, agar dapat mendiskusikan program yang berdampak kesehatan dan keselamatan manusia.

    Kepala Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian Kesehatan RI Mulyadi, SKM. M.Kes menyatakan, pihaknya segera membentuk tim khusus menyebarluaskan ProyekZero ini. “Niat dan tujuannya peduli terhadap kemanusian, kami dukung dalam hal penerangan dan sosialisasi” demikian Mulyadi menjelaskan.

    Perusahaan reklame terbesar di Indonesia juga sudah menyatakan kesediaannya mendukung program ProyekZero. “Kami siap menyisihkan sebagian dana corporate social responsiblity (CSR) perusahan dengan merelakan 88 billboard di titik strategis untuk kepentingan publikasi kegiatan ProyekZero,” kata Effendy Gunawan selaku pimpinan Warna Warni.

     Sehubungan berbagai dukungan tersebut, Manejer Yayasan Pikoli Francois Martin menyatakan optimis ProyekZero memberantas nyamuk penyebar virus mematikan, dapat merakyat. Tentu saja, kata Francois penuh harap, dan mengharapkan seluruh lapisan masyarakat, khususnya pers ikut ambil bagian dari kegiatan ini. Tanpa pers menyebarluaskan kepedulian terhadap pencegahan demam berdarah, pasti tidak bakal sampai ke masyarakat.

      Haryono menimpali, dan, apabila kita berhasil, Indonesia akan menjadi sumber motivasi negara-negara lain (maju, berkembang dan negara-negara terbelakang) bangkit bersama membasmi nyamuk. Karena korban demam berdarah tidak pilih-pilih; tak peduli kaya-miskin, kulit kuning, bule, sawo matang, hitam atau pun lainnya, balita, remaja, dewasa, pelajar, mahasiswa, dosen, guru besar, pejabat maupun rakyat kecil.

     Berkaitan dengan korban-korban demam berdarah tersebut, Direktur Penyakit Menular WHO untuk Asia Tenggara Dr. Jai Narain dalam pemberitaan majalah Time di Amerika, ia menganalisa bahwa sekitar 2,5 (dua setengah) milliar manusia bermukim di wiliyah yang terancam virus demam berdarah. Pasalnya, selain faktor perubahan cuaca, di wilayah tersebut terutama daerah terpencil sudah menanti Aedes aegypti. Peneliti Senior di University Otago Selandia Baru Simon Hales mengamini Jai Narain. “Benar, perubahan iklim termasuk penyebab percepatan penyebaran nyamuk pembawa virus mematikan ke seluruh dunia,” Hales menandaskan. (m.salaim/@mu).