OPSI PEMINDAHAN IBUKOTA NEGARA, LANGAH TEPAT

Tanggal : 3-08-2010, Kategori : Berita Utama, Jakarta

Ditulis oleh ; Murhan Ramly

Nasional ,  Surabayawebs.com.
Kata Bang Foke, yang dipercaya oleh Kedaulatan Rakyat ,  memenej Batavia pada saat sekarang  ” pemindahan Ibukota Negara sama saja tidak akan ada perobahan “.

Mencermati , apa yang disampaikan Gubenur Ibukota Negara, DKI Yaya, Ing. Fauzi Bowo itu, bisa jadi pendapat peribadi. Tapi apa yang sudah terdengar tentang rerncana itu , sebenarnya bukan bahan kajian yang masih embrio , tapi sudah lama rencana pemindahan  itu dikonfromi oleh petinggi negara kita ini. Bahkan RI pertama Ir. Soekarno  “well come”  akan rencana itu.

Bahan kajian untuk rencana tersebut   tidak terlalu banyak , tapi membawa dampak yang berkepanjangan apabila tidak dilakukan ” improvment wilayah ” .

Kajian yang pertama, adalah masalah kependudukan, yang kedua kemacetan, dan yang ketiga lahan yang kian menyempit karena tercentral di Jakarta.

Dari aktifitas pemerintahan hingga perniagaan ada disini. Bahkan ada kabar bahwa uang yang beredar di Jakarta mencapai 70 persen. Lainnya didaerah.

Rencana itu, sudah dikonfromi oleh kalangan politisi, publik ,  hingga pemerintah dengan fokus akan dipindahkan demi untuk memperbaiki tata pemerintahan kedepan. Yang perlu kita fahami adalah keriteria Ibukota Negara itu , perlu di hias dan dipercantik karena wilayah  itu yang menjadi  “representatif ” dari kenamaan suatu negara,  adalah Ibukota Negaranya.

Hal demikian karena masyarakat dunia menilai kerapihan Ibukota Negara , yang ada disetiap negara adalah  sebagai bahan  penilaian , yang  menjadi nilai kebangsaan suatu negara. Sebagaimana apa yang terlihat di negara itu.

Dengan melihat Ibukota Negara, yang ada di wilayah  DKI  Jaya pada saat sekarang ini, hanya dilihat dari kesemrautan yang terjadi disetiap hari , tanpa kita memahami bahwa wilayah ini adalah “miniatur negara” RI.

Artinya , dengan masyarakat luar dan dalam  melihat  Jakarta yang  serba padat dan macet pasti NKRI nya dinilai  seperti itu.

Memang ,  mereformasi Ibukota Negara kita ini , untuk dipindahkan ketempat lain , pasti akan terjadi pertimbangan, apakah akan lebih baik atau bagaimana. Dilihat dari bahan kajian yang ada ,  dan  sudah fakta, memang   seharusnya dipindahkan karena harapan yang akan dicapai , juga tipis untuk digapai , apabila tidak ada perobahan untuk memindahkannya.

Sementara apabila kita melakukan perobahan ,  pasti akan terjadi perbaikan pada sisi kemudahan untuk bermanuper pada berbagai aspek kehidupan. Bisa saja tingkat kenyamanan di Jakarta bisa lebih baik, dan pemerataan penduduk bisa terjadi , tidak hanya bertumpuk di Jakarta.

Lainnya adalah pada sektor kemacetan , dan tidak lagi mengurangi waktu bagi SDM untuk produktif.

Hanya saja , perlu ada  “sosialisasi pemikiran”  yang harus dipahami dengan mantap oleh semua kalangan. Apabilia pemerintah akan  melakukan manuper untuk memindahkannya.

Bahwa ketika keputusannya sudah pasti dan siap untuk dilaksanakan segala peroses menuju perbaikan , adalah negara yang menjamin. Hal ini perlu karena melakukan perbaikan pada sektor ini tidak bisa berjalan degan baik tanpa ada kekuatan yang menasional.

Sebagai bahan perbandingan ketika RI, masih melakukan tata pemerintahan yang  CENTRALISTIK , dikuatkan untuk  menjadi DECENTRALISASI, dan menghasilkan produk UU Otonomi Daerah.

Setelah era otda   berjalan  terungkap bahwa perbahan itu tidak maksimal untuk dijadikan pegangangan. Bahwa negara kita ini  ada perobahan.

Oleh karena itu , perobahan penempatan wilayah Ibukota Negara kedaerah lainnya , jangan dijadikan , sama seperti dengan masa reformasi dengan produknya Centralisasi menjadi Decentralisasi hingga era Otda.

Saatnya pemerintah melakukan keputusan untuk rencana ini, karena berbagai pendukung pelaksanaannya sejak jaman Orla sudah ada pertimbangannya tapi sampai sekarang , masih menjadi bahan dialog , apakah akan dilaksanakan atau bagaimana.

Saran dan masukan , apa kata Bang Yos, tentang  ” Megapolitan “, untuk menjadikan Jakarta menjadi luas, ada benarnya. Tapi pemisahan antara aktifitas pemerintahan dan perniagaan tidak centralistik. Bisa saja wilayah Jakarta dijadikan tempat lokasi perniagaan karena sudah dilengkapi berbagai sarana dan perasarana.

Sementara Ibukota Negara , sebaiknya masih diwilayah  ” YAVA ISLAND “. Manakala suatu saat , karena tahun berjalan dan memungkinkan  ada perobahan tata ruang yang akan pasti terjadi ditahun - tahun yang akan datang atau pada abad lainnya , bisa saja akan terjadi pemindahan  ke daerah lainnya.

Untuk saat sekarang yang paling efektif dan efisien letaknya. Sebaiknya , masih di Pulau Jawa. Perlu ada keyakinan yang kuat ,  bahwa rencana itu  adalah Langkah Yang Tepat.