PENGGUNA TABUNG GAS BISA LALAI ATAU ADA UNSUR LAIN

Tanggal : 9-07-2010, Kategori : Berita Utama, Jakarta

LAPORAN KUTIPAN, MURHAN. R

JAKARTA, SURABAYAWEBS.COM

Ledakan tabung gas banyak terjadi di sejumlah daerah. Tercatat ada 36 kali ledakan. Sebesar 30 persen terjadi pada pengguna elpiji tabung gas 3 kilogram. Dan 11 persen terjadi pada pengguna elpiji tabung 12 kilogram. Jumlah korban tewas menelan lebih dari 15 orang.

Tak sedikit warga menuding, kasus ini disebabkan program pemerintah melalui konversi minyak tanah ke elpiji, tiga tahun silam. Namun mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menampik ledakan gas disebabkan program konversi. Usai memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (8/7), ia mengatakan kelalaian penggunalah yang sering menyebabkan ledakan.

Tak heran kasus ini membuat warga resah. Buntutnya puluhan orang berunjuk rasa depan Kantor Pusat PT Pertamina, Kamis ini. Mereka meminta pemerintah memecat direktur utama pertamina karena dinilai bertanggung jawab. Mereka juga menuntut tanggung jawab perusahaan migas pelat merah itu atas korban luka dan tewas.

Sementara di Kediri, Jawa Timur, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji yang ada mencatat, kerusakan tabung gas elpiji 3 kilogram cukup besar. Dalam sehari tak kurang 200 tabung ditemukan rusak dan bocor. Ini akibat perlakuan tabung yang salah meski telah memenuhi standar SNI.

Hingga kini Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji Kediri menyimpan 13 ribu tabung elpiji 3 kilogram yang rusak.

Tragedi tabung gas selama ini terkesan membahayakan.Bisa jadi ada unsur lain. Mengapa demikian ?. Karena  pemakaian tabung  gas ukuran besar itu sudah lama dipakai oleh konsumen dan  grafik permasalahannya biasa-biasa saja.

Munculnya tabung gas ukuran 3 kg, sejak di edarkan terjadi banyak ledakan. Hal ini perlu di telaah secara mendalam karena sudah membahayakan. Kecil kemungkinan kalau kelalaian masyarakat hanya menyalakan kompor gas bisa terjadi bahaya ledakan. Apalagi soal menyalakan kompor gas merupakan  pekerjaan harian dan tidak perlu belajar untuk mempergunakannya.Karena sangat praktis.

Yang perlu dipahami adalah,  apakah komponen alatnya sudah “good condition” hingga sampai ketangan konsumen. Meskipun sudah digaranti melalui uji SNI.Dan siapa yang akan diklaim apabila terjadi bahaya. liputan6.com.