SEMINAR PENANGANAN DM DAN KOMPLIKASI MATA DI UMY

Tanggal : 29-05-2010, Kategori : Berita Utama, Olahraga & Kesehatan, Yogyakarta


LAPORAN : AFFAN SAFANI ADHAM

YOGYAKARTA - SURABAYAWEBS.COM

Diabetes Melitus atau kencing manis merupakan penyakit gula yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi normal akibat tubuh kekurangan insulin. Diabetes Melitus menyebabkan penderita rentan terhadap infeksi, seperti infeksi saluran kencing, infeksi paru serta infeksi kaki. Selain menyebabkan infeksi, ternyata Diabetes Melitus bisa menyebab kelainan yang terjadi pada pembuluh darah retina dan bisa berakhir dengan kebutaan bagi penderitanya. Retinopati Diabetik, begitu kebutaan akibat DM ini dalam bahasa kedokteran, terjadi pada 60% penderita diabetes atau diabetisi yang berumur di atas 15 tahun.

Demikian diungkapkan dr. Yunani Setyandrian, Sp.M dari RS PKU Muhammadiyah Bantul dan dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY, dalam seminar ilmiah “Penanganan Diabetes Melitus dan Komplikasi Mata” yang diselenggarakan oleh Asri Medical Center UMY, Sabtu (29/5).

Menurut Yunani, Retinopati Diabetik muncul karena adanya kebocoran atau sumbatan pembuluh darah halus di retina serta dapat menyebabkan pembentukan pembuluh darah yang rapuh.  “Namun pembuluh darah rapuh ini sebenarnya bisa di cegah dengan suntikan anti VEGF ke dalam bola mata,” ungkap dr. Yunani.

Dikatakannya, Retinopati Diabetik pada stadium awal biasanya tidak bergejala sehingga sering sekali penderita tidak menyadari. “Sebenarnya kebutaan akibat Retinopati Diabetik ini bisa dicegah melalui fotokoagulasi laser yang tepat waktu. Namun pada kenyataannya, sebagian penderita sering datang terlambat waktu, hingga kebutaan kadang tidak bisa dihindarkan lagi. Oleh karena itu para penderita diabetes melitus sebaiknya memeriksakan matanya lebih awal,” ungkap Yunani.

Sebagaimana dikatakan dr Yunani, jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia (2000) mencapai 8,4 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2030 akan mencapai 21,3 juta jiwa.  Peningkatan terus terjadi, 14,7 % di perkotaan dan 7,2% di pedesaan. Ini menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan jumlah penderita diabetes di Indonesia yang kebanyakan disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat.