AGUS MARTOWARDOYO PERNAH DITOLAK PENCALONANNYA SEBAGAI GUBERNUR BANK INDONESIA.

Tanggal : 24-05-2010, Kategori : Berita Utama, Ekonomi & Bisnis, Daerah, Jakarta


LAPORAN : H. ERRY BUDIANTO

JAKARTA - SURABAYAWEBS.COM

Menteri Keuangan (Menkeu) RI Agus Martowardoyo dipastikan akan mengalami kesulitan menghadapi Wakil-wakil Rakyat di DPR RI. Pasalnya, mantan Dirut Bank Mandiri ini pernah ditolak oleh pihak Legislatif terkait pencalonannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).

Menurut Rahadi Zakaria anggota DPR RI dari Fraksi PDI-P, melihat latar belakang Agus yang pernah ditolak DPR RI itu dipastikan nasib Agus tidak jauh berbeda dengan pendahulunya Sri Mulyani. “Agus bakal dikritisi terus-terusan oleh DPR RI,” kata mantan wakil Ketua DPD PDI-P Jabar ini.

Dikemukakan, Rahadi, kemampuan Agus belum teruji. Pasalnya ? Bank Mandiri merupakan BUMN Perbankan terbesar ke dua setelah BRI. Rekap obligasinya saja mencapai Rp.175 triliun. “Artinya, Direksi sambil tidur mimpi pun pasti untung. Gak usyah kerjapun pasti meraih laba, Kayak Telkomlah, dengan nilai kapitalisasi pasar lebih dari Rp. 170 triliun, sambil tidurpun pasti untung,” kata mantan anggota DPRD Jabar dari Fraksi PDI-P ini berseloroh.

Dikatakan dia, diprediksikan Duet Agus Martowardoyo-Anny Ratnawati sebagai Menkeu dan Wakil Menkeu, bakal terseok-seok tanpa Anggito Abimanyu. Posisi Anggito sebagai Kepala Badan Kebijakan Piskal (BKP) Depkeu, akan sulit tergantikan oleh siapapun. “Termasuk kalau posisi Anggito diganti oleh Rinaldi Firmansyah yang kini Dirut Telkom,” tegas Rahadi kemudian.

Di mata Wakil Rakyat pemilihan daerah Bekasi-Kerawang-Cikampek-Purwakarta ini Agus Martowardoyo tidak terlalu popular di bursa efek Indonesia (BEI). Hal itu terlihat saat pengumuman dirinya sebagai menkeu RI, indek saham gabungan malah turun dan rupiah tertekan. “Artinya, pasar masih ragu-ragu atas kemampuan Agus dan menantikan tindakannya sebagai Menkeu yang baru,” jelasnya.

Sementara itu pengamat ekonomi Aviliani, menyayangkan hengkangnya Anggito Abimanyu. Aviliani menyebutkan, mundurnya Anggito tidak seharusnya terjadi jika Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara (PAN) melaksanakan rekruitmen dengan baik. “Jika memang tidak memilih Pak Anggito sebagai wakil Menkeu, harusnya jangan disebarluaskan dulu beritanya ke media massa. Jadinya  seperti saat ini. Artinya, wajar jika Pak Anggito memilih mundur,” tutur pengamat ekonomi ini.