EDDY KURNIA : TELKOM TIDAK ADA NIATAN UNTUK MENGANDENG ESIA BERSINERGI DENGAN FLEXI

Tanggal : 18-05-2010, Kategori : Berita Utama, Politik & Keamanan, Ekonomi & Bisnis, Sorot


Laporan : H.Erry Budianto

Bandung-Surabayawebs.com

Bocoran dari Kementerian BUMN bahwa Telkom akan mengandeng Bakrie Telecom untuk mensinergikan produk CDMA Flexi dengan Esia, seperti yang dimuat Koran Bisnis Indonesia 17/5 kemarin dibantah dengan tegas oleh VP.Public and Marketing Communication (PMC) Telkom Haji Eddy Kurnia hari ini Selasa 18/5.

Menurut dia, hingga saat ini tidak ada pembicaraan serius mengenai rencana merger atau akuisisi antara Flexi dengan Esia. Selain itu Telkom tetap focus untuk membesarkan Flexi yang jumlah pelanggannya sampai akhir April lalu mencapai 15,3 juta. “Hingga akhir 2010 nanti kami mentargetkan 18 juta pelanggan Flexi ,” ujar mantan Dirut PT.AWI ini kemudian.

Ditegaskan calon BoD Telkom 2010-2015 yang sangat layak ini bahwa hingga hari ini  Flexi tetap menjadi market leader, dengan menguasai sekitar 51% pasar CDMA di tanah air.

Pada bagian lain Eddy menjelaskan bahwa agenda RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) Telkom 2010 yang akan digelar 11 juni 2010 nanti di Aula Pangeran Kuningan di Jakarta, sama sekali tidak ada agenda mensyahkan anak perusahaan yang khusus memanage Flexi. “Tidak ada agenda itu. Flexi tetap berjalan sebagai Divisi yang mandiri,” katanya.

Sejumlah pengamat telekomunikasi menilai Flexi sulit akan berkembang jika tidak dikelola secara khusus dan  serius dalam wadah anak perusahaan. Seperti selular yang berbasiskan teknologi GSM dimanage dengan baik oleh anak perusahaan Telkom PT.Telkomsel yang berbagi saham dengan anak perusahaan Temasek Singapore, singTEL (35%) Telkom 65%.

Kelemahan Flexi termasuk produk operator lainnya yang mengoperasikan produk dari teknologi CDMA ini antara lain tidak bisa roaming dan cakupan terbatas. Juga karena regulasi dari regulator tidak mendukung dan mendoron g produk-produk CDMA seperti Flexi untuk cepat berkembang pesat. “Untuk itu selain design harus diubah menjadi bisa roaming juga regulasi harus bisa mendorong pemakaian komunikasi melalui teknologi CDMA oleh masyarakat luas bisa berkembang pesat,” ujar pengamat teknologi CDMA di Bandung.

Telkomsel kini tumbuh berkembang luar biasa pesatnya selain mampu meraih 103 juta pelanggan akhir April lalu, juga berhasil mengIndonesiakan Indonesia melalui network jaringan layanannya dari Sabang sampai Merauke.Termasuk pulau-pulau daerah terluar seperti Pulau Wee di ujung barat pulau Sumaratea, Pulau Natuna, Pulau Miangas dsb.

Selain memberikan total kontribusi kepada Telkom lebih dari 50% setiap tahunnya (2009 lebih dari Rp.28 triliun dari total pendapatan Telkom Rp.64 triliun)  kini Telkomsel juga memberikan kepuasan kepada pelanggannya jika menggunakan kapal-kapal PELNI. Penumpang kapal PELNI yang berada di tengah lautan dan samudera di negeri dengan lebih 17.000 pulau ini tetap bisa melakukan komunikasi bisnis, dengan teman atau dengan saudara  jika mereka pelanggan produk-produk Telkomsel seperti kartuHALO, simPATI dan kartuAS.

Perangkat yang mahal itu kini ditempatkan di 15 kapal PELNI dari rencana semuanya sekitar 40 kapal. Alat yang mirip parabola ini dapat mengurai system analog dari satelit yang berada di angkasa menjadi digital, baik suara maupun pesan singkat (sms).

Sementara itu sumber di Telkom menyebutkan, sinergi Flexi dengan produk CDMA operator lainnya di Indonesia masih dalam kajian yang dalam. Kajian tersebut berupa pembagian saham, hutang-hutang operator yang diajak gabung, potensi pasar setelah merger. Termasuk modal awal, asset perusahaan.

“Kalau hutang operator itu sangat besar, tentunya kurang signifikan untuk dilakukan merger. Juga saham Telkom sebagai BUMN harus mayoritas. Kalau yang diajak merger itu minta saham mayoritas dikuasai mereka, merger pasti gak jadi,” ungkap sumber ini kemudian.

Sedangkan Budi Haryono salah seorang GM Bakrie Telecom, menyebutkan, mengakui dulu memang ada wacana dari Telkom untuk melamar Esia bersinergi dengan Flexi. Lalu wacana itu hilang. “Kini kalau wacana itu muncul lagi, harus didorong karena kalau Esia dengan Flexi gabung, pertumbuhan dan peningkatan pelanggan akan jauh lebih signifikan. Selain itu tentunya harapan kita semua agar regulasi yang diluncurkan Kementrian Kominfo bisa jauh lebih bersahabat ketimbang sekarang,” tutur Budi.