Imlek Bukan Perayaan Agama Tapi Perayaan Tradisi Bagi Kalangan Turunan Tiong Hoa

Tanggal : 19-02-2010, Kategori : Sorot Tokoh, Sorot

LAPORAN : MURHAN RAMLY

JAKART A- SURABAYAWEBS.COM
Memasuki perayaan Hari Imlek, Surabaywebs.com, berkunjung  dan bertemu langsung Ketum NSI, Suhadi Sendjaya.12/02/ Jakarta.Suhadi saat dikonfirmasi mengenai apa makna perayaan Imlek itu yang sudah menjadi perayaan hari raya nasional bagi kalangan turunan Tiong Hoa ?.

Menjawab pertanyaan yang diajukan tentang arti harafiahnya,  ia lebih awal menjelaskan bahwa Imlek itu bukan perayaan hari agama melainkan, perayaan Imlek itu sebetulnya ” perayaan Tradisi bagi orang turunan Tiong Hoa yang diberi nama IMLEK”

Ia menguatkan atas makna Imlek itu, bahwa didaratan RRC dulu , Imlek itu merupakan hari bersukaria bagi kalangan masyarakat Tiong Hoa , seperti  nelayan,petani hingga penduduk setempat merayakan sebagai wahana untuk  melakukan silaturrahmi kepada orang tua dan sanak famili. Sama seperti dinegara kita ada tradisi “Sungkeman”.Seperti, itu lah yang dimaksud Imlek,ujar Suhadi.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa perayaan Imlek itu boleh saja dilaksanakan bagi masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia. Meskipun demikian perayaan Imlek itu tidak hanya bagi kalangan Buddha bisa saja dari Khong Hu Cu, Hindu,  bahkan yang beragama Islam maupun Keristen  sekalipun. Mengapa demikian ? karena perayaan Imlek itu  memang merupakan perayaan hari raya yang sifatnya “Tradisi” jadi tidak ada kaitannya dengan perayaan hari Waisak,Galungan dan hari besar agama lainnya di Indonesia, kata Suhadi memaparkan.

Sementara Imlek itu menurut artinya apabila diuraikan , arti Imlek itu terbagi dua .Kata  IM  adalah bulan sedangkan  Lek , itu adalah Kalender jadi artinya  adalah Kalender Bulan.  Atau disebut tarikh. Didunia ini ada beberapa macam perhitungan kelender. Sementara itu ada yang berdasarkan perputaran  bulan mengelilingi matahari , itu disebut dengan  “Tarikh Matahari”. Dipakai sebagai penetapan untuk tahun Masehi.Ada lagi kalender yang berdasarkan perputaran bulan mengelilingi bumi. Itulah yang disebut  IMLEK, kata Suhadi menerangkan.

Sehingga Imlek itu,  bagi masyarakat turunan Tiong Hoa mempergunakan kalender itu.Artinya   Imlek itu adalah suatu pergantian tahun berdasarkan Kalender Imlek.Perhitungannya Bulan mengeliligi Bumi. Singkatnya.

Jadi,  hari Imlek  itu dalam penetapan hari pelaksanaannya bisa maju atau  mundur dalam urutan nama bulan dalam setahun. Sama seperti dengan datangnya bulan Suci Ramadhan dimana penetapannya menurut bulan dan penetapan hari lebaran ditentukan dengan perhitungan Kalender Islam.

Mengakhiri kunjungan Surabayawebs.com , sempat memantau persiapan Imlek di Vihara yang berada di pasar Jati Negara, dimana menurut pengurus Annya yang selalu berada ditempat ini mengatakan pada 28/02 akan dilaksanakan Cap Go Mey.