MENGHADAPI CAFTA ADALAH JALAN UNTUKMENINGKATKAN KWALITAS

Tanggal : 22-01-2010, Kategori : Ekonomi & Bisnis

LAPORAN : MURHAN RAMLI

JAKARTA - SURABAYAWEBS.COM
Ketua Umum  Parisadah Buddha Dharma Nicirien Syosyu Indonesia ( NSI ) Suhadi Sendjaja menjelaskan, era CAFTA,( China - Asean Freetrade Agreement )  menurut tokoh agamis dari Buddhis saat surabayawebs.com menjumpainya menjelaskan soal persaingan dagangan itu ,  adalah bagimana kita memperbaiki sikap kita,  diantaranya adalah kesadaran mencintai produk dalam negeri, dan peningkatan etos kerja.

Karena hal tersebut adalah merupakan sprit untuk menghadapi perdagangan antar negara yang memang sasarannya adalah “Untung dan Rugi”, ujarnya. Fakta sekarang merupakan era transparansi kita sudah open. Kita tidak bisa menolak dan sebaiknya persaingan itu kita hadapi karena  merupakan  Hikmah,ucapnya.

Karena hikmah itu , kita itu harus tegas dalam meningkatkan kwalitas SDM kita yang didukung oleh SDA yang baik. Sementara di China itu  tidak sebaik dengan kondisi alam dinegeri kita ini,kata ia menerangkan.

Masalah itu , menurut tokoh masyarakat Buddhis  ini “jangan kita tanggapi sebagai sebuah kesulitan tapi bagaimana kiat  bisa meningkatkan kwalitas kita, ungkapnya.

Pilisofisnya adalah tantangan itu adalah “Jodoh” untuk merobah diri kita menjadi meningkat. Karena melalui tantangan itu, Indonesia bisa menjadi kuat karena muncul kesadaran untuk cinta produk dalam negeri. ” mungkin ada mahal sedikit tapi kita mau membeli karena cinta produk dalam negeri” kata Suhadi menjelaskan.

Ia menguatkan bahwa pilosopis Buddhis mengatakan ” Perubahan itu terjadi seketika dan seketika itu kita ada keinginan untuk mau merobah”. Jadi yang penting mau enggak ,kita memulai? tanyanya. Kita tidak bisa memprediksi kapan kita akan mencapainya. Tapi kita  pasti akan  menemukan jalan keluarnya.Kuncinya dengan mengutif ajaran Buddhis ” Seorang yang arif bijaksana itu kalau ada kesulitan dia gembira” , Mengakhiri ucapannya.***