DR.Zulfahmi Burhan SE,MM,DT.Rajo Bagagar:”CAFTA BUKAN BADAI TAPI BADAI PASTI BERLALU”

Tanggal : 15-01-2010, Kategori : Sorot Selebritis, Sorot Usaha, Sorot Tokoh, Sorot

LAPORAN : MURHAN RAMLI
JAKARTA - SURABAYAWEBS.COM
China - Asean Freetrade Agreement, menuai pro kontra ditengah persoalan bangsa yang datang silih berganti. Pemerintahan yang sedang berjalan dibawah nakhoda SBY-Boedi akan menghadapi berbagai tantangan dan harapan yang dinanti oleh publik di era CA-FTA.

Masuknya Indonesia sebagai negara yang menyetujui perdagangan antar negara dikawasan Asean dan China, tentu perlu perhatian oleh pemerintahan yang sedang berjalan dibawa team manejmen KIB II, apakah pemerintah kita siap menghadapi persaingan dengan mempertimbangkan berbagai plus dan minusnya bagi kemajuan bangsa kita? hal tersebut menjadi pemikiran bagi jutaan warga. Seperti apa,hasil yang akan kita capai kedepan.

Sebagai bangsa yang memiliki populasi dan berada di urutan ke empat pada jumlah populasi di dunia , Indonesia memiliki potensi “Market” yang gemuk diantara negara Asean, tentu hal ini menjadi perhatian karena populasi yang menghampiri 220 juta jiwa berpotensi menjadi sumber income bagi negara yang lebih awal mempersiapkan diri.

Persaingan dan upaya kerjasama dagang antar negara adalah harapan masyarakat Indonesia agar bangsa kita ini bisa keluar dari berbagai keterpurukan ekonomi.

Kita tidak menganggap bahwa bebasnya produk dari luar masuk ke sini, tidak berarti akan menjadi badai, tapi harus dilihat dari bergai harapan yang akan diraih nantinya. Demikian pro dan kontra yang menjadi prediksi di tengah publik disaat pemerintah sedang membenahi sistem Moneter yang lemah dalam “Controling”.

Berkaitan dengan itu CA-FTA ( China-Asean Freetrade Agreement ) yang telah disepakati oleh negara-negara yang menjadi anggota, Surabayawebs.com lewat bincang-bincang bersama DR.Zulfahmi Burhan SE,MM,DT. Rajo Bagagar. Direktur Lembaga Kajian Ekonomi Dan Budaya ini , saat dijumpai beberapa pointer pertanyaan yang diajukan dan direspon dengan praktis tanpa melihat kerjasama dagang itu akan berdampak buruk kepada pemerintahan kita ini. Artinya hal itu berjalan apa adanya. Saat ditanya mengenai focus yang harus dibenahi oleh Team SBY-Boedi bersama KIB II seperti, bagaimana kesiapan SDM dibangsa kita ini yang “Pluralis” apa yang perlu dilakukan ?. Pendapatnya lebih mengarah kepada pemberdayaan SDM itu perlu penguatan pada sektor pendidikan dan itu merupakan potensi yang paling baik dalam membangun bangsa kita ini, karena merupakan ‘HUMAN INVESTMEN”, pikirnya.

Jadi , membentuk SDM melalui pendidikan akan melahirkan SDM yang bisa mengisi posisi strategis seperti pada level eksekutif dan dilegislatif,begitu ia menilai atas harapan yang akan diperjuangakan oleh bangsa Indonesia yang Pluralistik.

Ia berpendapat bahwa “Educasi” yang dipahamai oleh setiap ummat adalah investasi yang paling baik, paparnya.

Bahkan menurut praktisi pendidikan ini melalui respon yang dipaparkan pada saat bincang-bincang mengutif ajaran agama bahwa perintah Tuhan yang paling awal di perintahkan kepada ummat manusia adalah ” Belajar ” Dalam bahasa Arab disebut “IQRO” Membacalah. Negara super power maju karen pendidikan meerupakan Human Investmen. ujar pembimbing mahasiswa berjenjang tingkat doktor ini.

Sebenarnya kata ia bahwa pada persoalan kehidupan bangsa kita yang pluralistik kita bisa melihat kehidupan di Ibu kota negara, Jakarta - Indonesia yang hidup berdampingan tidak ada masalah yang begitu menakutkan , berjalan apa adanya, penganut keyakinan solid dalam menerima toleransi untuk membangun negeri ini, ujranya.

Memang dampak yang kita hadapi tentu memiliki konsekwensi dengan produk yang masuk dengan harga yang konpetitif masalah ini pemerintah harus membenahi sektor UKM karena pengusaha ekonomi lemah dan menengah akan merasakan dampaknya apabila terjadi “Dumping”, sektor industri yang sudah setengah berjalan akan mengalami persaingan pada penguatan “Capital Cost”. Kita mengaharap pemerintah mulai dari Gubernur,Bupati dan Walikota, memikirkan dampak itu. Ia menegaskan penguatan keterampilan segera di benahi karena selama ini , pandangannya atas dunia pendididkan yang sedang berjalan sebatas “penguasaan kemampuan pemikiran dan wawasan yang berkembang sementara keterampilan tidak menonjol”. Ia menambahkan kita tidak hanya ingin populer tapi bagaimana kita menguatkan pendidikan itu sebagai penentu kesuksesan kedepan,katanya.

Bahkan selama ini menurut pengamatannya bahwa Jepang sebagai negara high tech industri mempersiapkan diri jauh sebelum negara maju mengusai iptek itu, Negeri Matahari itu mengejar ketertinggalannya pada saat hancur akibat BOM negara sekutu. Dengan kondisi hancur negri matahari itu membangun bangsanya dengan focus kepada pembentukan SDM lewat pendidikan.

Karena itu, menurut ia terjadinya persaingan usaha antara negara, kata anggota KAHMI ini ” ditentukan oleh bagaimana kita melakukan “Human Investment” dan memiliki keterampilan dan keahlian, usulnya.

Dengan menilai hasil pendidikan sekarang ini kata ia baru “bertumpuh pada pengembangan wawasan dan pemikiran “. Kurang menguasai keterampilan. Jadi memperbaiki suatu sistem butuh peroses yang cukup lama.. Ia mengingatkan Provinsi Aceh saat masih berkomplik ” berakhir setelah di hancurkan oleh tindakan alam. Badai Tsunami merobohkan setelah itu Aceh perlahan bangkit dan melunak untuk kembali berdampingan pemerintah Indonesia sebagai provinsi Nangru Aceh Darussalam”. Jadi pemikiran saya atas masuknya produk dari negeri China melaui kesepakatan dagang akan berjalan seperti yang terjadi sekarang tidak perlu dikhawatirkan,imbaunya.

Saat di akhir pertemuan bersama Surabayawebs.com melalui bincang-bincang tentang persaingan dagang dikawasan ASIA/Asean .Dato menegaskan rotasi bisnis itu akan berjalan apabila kebijakan pemerintah terarah mendampingi pengusaha yang masih lemah pada sektor “Cost”. Karena saat ini yang dikhawatirkan akan banyak industri menutup usahanya karena akan terkena ” dumping “. Yang terjadi karena produk yang sama dari luar masuk ke sini dengan harga yang tidak sama. Artinya produk dari luar lebih menyesuaikan kantong konsumen. Pasar yang akan menentukan dan pemerintah yang akan memikirkan bangsanya yang sedang dirundung berbagai problem. Menutup pandangan yang diucapkan lewat bincang-bincang. Ia mengatakan. China mampu mengusahakan bangsanya yang berjumlah miliaran penduduk, sementara bangsa kita baru 220 juta. Masih banyak peluang. “Tantangan bisnis antar negara bukan badai tapi badai pasti berlalu” demikian inti bincang-bincang bersama Surabayawebs.com.