WORKSHOP BUDPAR DIHARAPKAN DORONG PERS CIPTAKAN RASA AMAN

Tanggal : 19-08-2009, Kategori : Seni & Hiburan

LAPORAN : SALIM

JAKARTA - SURABAYAWEBS.COM

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) menyadari sepenuhnya bahwa fungsi media masa sangat besar dalam menumbuhkan rasa aman dalam masyarakat, baik masyarakat dalam negeri maupun masyarakat internasional. Dengan tumbuhnya rasa aman dalam masyarakat tersebut diharapkan mampu mendoronga peningkatan jumlah wisatawan baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Untuk itu, Depbudpar mengajak semua pihak, termasuk pekerja di bidang pers untuk membantu pemerintah dalam menciptakan rasa aman sehingga Indonesia kembali dikenal sebagai bangsa dan negara yang aman, nyaman dan ramah. Hanya dengan adanya rasa aman, maka bisnis pariwisata dapat tumbuh pesat.

Dalam rangka meningkatkan rasa aman melalui pemberitaan di media massa, maka Depbudpar menggelar Workshop Kebudayaan dan Pariwisata serta Apresiasi Wartawan di Museum Mandiri, Jakarta, Selasa (11/8). Keterlibatan media masa sangat dibutuhkan untuk menciptakan pemberitaan yang proporsional tentang Indonesia.

Sekjen Depbudpar, Wardiyatmo dalam kesempatan itu mengatakan, pemberitaan yang membangun citra positif Indonesia akan mendorong para wisatawan dalam negeri, dan terutama wisatawan mancanegara dapat melihat Indonesia sebagai daerah tujuan wisata yang aman, nyaman, menarik dan memiliki kelebihan.

             

Apalagi menurut ia, Indonesia merupakan negara yang kaya akan seni budaya, memiliki banyak destinasi wisata dan dan ada sebanyak 6.000 pulau yang dihuni dan siap menerima kunjungan wisatawan. Ia mengatakan apabila ada tempat yang kurang nyaman dan kurang cocok, maka masih sangat banyak tempat lain di Indonesia yang aman, nyaman dan menarik dan layak dikunjungi.

Sebenarnya, peran media mulai menunjukkan kepeduliannya yang baik karena yang menggembirakan sekarang ini jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mengalami kenaikan sebesar 2,69 persen pada periode semester I  (Januari-Juni ) 2009 ini dibanding periode yang sama tahun 2008 lalu. Ia mengatakan, jumlah kunjungan wisman tahun 2008 adalah 6,4 juta orang, sedangkan target tahun ini sebanyak 6,5 juta wisman. Artinya, cukup dengan kenaikan satu persen lebih sedikit, maka target Visi Indonesia Year (VIY) 2009 akan tercapai. Karena itu, menurutnya, target itu tidak perlu direvisi karena angkanya masih relevan dan diyakini akan tercapai.

Diakuinya ada banyak kendala untuk meraih target itu, misalnya terjadinya krisis dunia, merebaknya flu babi dan peristiwa bom JW Marriott II.

“Namun kinerja apara keamanan Indonesia dalam menangani teroris sangat baik, dan itu memberikan citra baik pada Indonesia, karena pemerintah Indonesia tidak main-main dalam memberantas terorisme,” kata Wardiyatmo.

Dikemukakan bahwa laporan dari berbagai daerah diakuinya belum ada yang tetap dalam kunjungan wisman. Terjadi fluktuatif, katanya, pekan ini jumlah kunjungan biasabya ramai, tapi pekan depannya menurun.
“Kami masih menunggu laporan dari sembilan perwakilan promosi Indonesia di luar negeri dan sumber wisman yang datang ke Indonesia mengenai respon mereka terhadap langkah-langkah pemerintah Indonesia dalam pemberantasan terorisme, meskipun secara umum, tanggapannya baik dan secara keseluruhan kunjungan wisman tidak mengalami gangguan berarti,” katanya.

MUSEUM SEBAGAI DESTINASI

Bersamaan dengan itu, Depbudpar juga sedang menggalakkan parawisata dengan melakukan kunjungan ke museum sebagai destinasi wisata  dan sejarah serta budaya masa lalu. Kecenderungan bangsa besar yang mengajak generasi mudanya ke museum menyaksikan kekuatan masa lalu mereka ternyata mampu memotivasi rakyatnya untuk maju.

Untuk itu, dalam program workshop yang dirangkai dengan kegiatan apresiasi kepada para wartawan itu dihadirkan diskusi tentang pengembangan destinasi berbasis museum dan kota tua. Dalam workshop tersebut dihadirkan pembicara dari Lembaga Sensor Film yang memaparkan kekuatan produk kreatif yang menggiurkan, demikian juga potensi kota tua yang disampaikan Aurora Tambunan Depeti Bidang Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta serta Sabam Siagian yang menyoroti fungsi media sebagai sarana penting pembangunan pariwisata di tanah air.

Workshop tersebut bertujuan menginformasikan pada masyarakat, bahwa sejarah bangsa masa lalu yang dimiliki bangsa Indonesia sangat beragam dan itu tersimpan di museum, sekaligus mendorong masyarakat agar bisa menghargainya dan  berpikir untuk lebih maju lagi.Hal itu dikatakan oleh Kepala Pusat Informasi dan Humas Depbudpar Surya Darma.

Lebih jauh surya menjelaskan,  dalam  hidup berbudaya, setiap orang harus bisa menghargai  masa lalu,  sebagai warisan bangsa, guna mencapai hal yang lebih baik untuk masa yang akan datang.

Karena itu Indonesia harus mampu melestarikan budaya bangsa baik dari manfaatnya dan sebagai pembelajaran untuk masa depan, apalagi Indonesia telah masuk era keempat  yang memfokuskan pada  bidang pertanian, perdagangan, informasi dan komunikasi.

Indonesia kini sedang mengarah kepada ekonomi kreatif, dimana Indonesia memiliki 14 sub bidang ekonomi kreatif yang memiliki nilai ekonomi dan itu merupakan sumber mata uang baru yang perlu dipacu dan  diantara ada beberapa sub bidang yang ditangani oleh Depbudpar.

Hal itu perlu ada pengembangan, karena didalam  hidup ada tiga hal yang harus diperhatikan, pertama adalah museum, kedua pasar, dan ketiga laboratorium (pengembangan).

“Dimana  untuk melangkah maju kita harus belajar dari masa lalu dan itu dapat kita pelajari dari museum, sedangkan untuk hari ini kita harus merebut pasar untuk kehidupan, dan itu perlu dilakukan penelitian di laboratorium,” katanya.***