RENDRA MENINGGALKAN KARYA INDAH YANG PERNAH MEMBAWANYA KE PENJARA

Tanggal : 7-08-2009, Kategori : Berita Utama, Seni & Hiburan

LAPORAN : ARIES M. SAUGI

JAKARTA - SURABAYAWEBS.COM
Seniman besar Si Burung Merak WS Rendra telah meninggal dunia dengan sejumlah hasil karya puisi indah. Rendra meninggal dunia dalam usia 74 tahun akibat sakit jantung dengan komplikasi sakit ginjal setelah dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Depok, Jawa Barat.

Tahun 1978, Rendra pernah dipenjarakan oleh pemerintah yang berkuasa saat itu. Gara-gara Rendra mengeluarkan karya-karya berbau protes. Tapi kejadian tersebut tak membuat pria kelahiran Solo, 7 November 1935 itu berhenti menelurkan kekesalannya terhadap banyak hal lewat sajak, puisi, maupun drama.

“Saya baru tahu sekarang bahwa beliau sangat tangguh. Jarang ada yang seperti beliau. Beliau mengajarkan inilah kesenian dan bukan untuk cari uang. Ada nilai-nilai yang tanpa disadari. Ada nilai bagaimana mengenal diri, kalau dalam ketauhidan,” jelas David, teman dekat sang penyair itu.

Pendiri Bengkel Teater yang termasyur itu dikenal sebagai seniman serba bisa, tidak hanya budayawan terkemuka nasional, penyair dan dramawan besar, namun juga seorang aktor.

Disutradarai Sjuman Djaya, dan berpasangan dengan aktris Yati Octavia, pada 1977, Rendra pernah membintangi film remaja “Yang Muda Yang Bercinta,” namun kemudian dilarang beredar karena tujuan-tujuan politis saat itu.

Dalam salah satu penampilan puisi terkenalnya pada Mei 1998, di ruang gedung DPR RI semasa awal reformasi, almarhum berorasi dengan membacakan puisi karya aktivis dan penyair Wiji Thukul yang kesohor, “Hanya ada satu kata, Lawan!”

Jauh sebelum itu, pada 1990an, bersama para seniman dan musisi seperti Iwan Fals, Setiawan Jodi, Sawung Jabo, dan lainnya, Rendra menggelar konser Kantata Takwa yang fenomenal dan mengusik rezim Orde Baru saat itu, diantaranya dengan menggelegarkan lagu “Bento” yang penuh kritik.

Di luar kehidupan rumah tangganya yang ramai oleh perhatian media, Rendra mungkin merupakan salah seorang sastrawan Indonesia paling berpengaruh tidak hanya pada dunia seni dan sastra nasional kontemporer, namun juga pergerakan sosial dan politik Indonesia pada empat dekade terakhir.

Lahir pada 7 November 1935 di kota Solo, Jawa Tengah, Rendra yang juga cerpenis ini pernah berkuliah pada Jurusan Sastra Inggris, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, setelah sebelumnya menamatkan SD sampai SMA di St. Yosef, Solo, pada 1955.

Pada 1964, dia memperoleh beasiswa dari American Academy of Dramatical Art, sampai selesai menempuhnya pada 1967. (ant)