JK-WIRANTO DIPREDIKSIKAN MERAIH SUARA TERBANYAK PILPRES 2009.

Tanggal : 1-07-2009, Kategori : Berita Utama, Politik & Keamanan


Oleh : H. Erry Budianto (Redaktur Surabayawebs.com)

Tanggal bersejarah Pilpres 2009 yang jatuh pada 8 Juli 2009, tinggal hitungan hari. Masalah Daftar Pemilih Tetap (DPT) seperti pada Pileg 9 April lalu ternyata masih tetap mencuat. Kepercayaan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang merosot tajam hanya 30% saja, membuat legitimasi Pemilu 2009 ini dipertanyakan banyak pihak dan kalangan.

Lepas dari KPU yang  kurang legitimatt, namun dana yang luar biasa besarnya untuk menggelar “Pesta Demokrasi” ini membuat rakyat “terpaksa” menerima apa adanya kinerja KPU dan pemerintah sebagai penyelenggara Pemilu 2009. Dipastikan rakyat kecewa berat atas unjuk kerja KPU dan pemerintah saat ini.

Dari gerak kampanye Capres dan Cawapres selama masa kampanye bulan Juni 2009 ini. Semua upaya telah dilakukan nomor urut 1 Megawati-Prabowo, nomor urut 2 SBY-Boediono dan nomor urut 3 JK-Wiranto, untuk meraih simpati pemilih di seluruh pelosok negeri Indoensia tercinta ini.

Dari sisi logistic alat peraga, ternyata pasangan nomor urut 3 JK-Wiranto yang mengetengahkan slogan perjuangan Lebih Cepat, Lebih Baik ! Memang sesuai dengan mottonya itu. Kubu JK-Win jauh lebih cepat memasang alat-alat praga seperti Baliho, Spanduk, Bendera, Umbul-umbul, Poster, barang cetakan, kaos maupun pamflet.

Kubu nomor urut 1 Mega-Pro dan nomor urut 2 SBY-Boediono, pengadaan logistic alat praganya, jauh terlambat ketimbang kinerja nomor urut 3 JK-Win. Sayangnya, jatuh sakitnya Ketua Koordinator Relawan Pemenangan JK-Win Wilayah Pemenangan Jawa Barat Kang Djadja Subagja Husein, sedikit mengurangi semaraknya pemasangan alat praga di kota Bandung dan daerah lainnya di wilayah Parahyangan..

Tapi sakitnya mantan Ketua Umum Angkatan Muda Siliwangi (AMS) itu tak mengurangi semangat relawan lainnya untuk siap memasang alat praga di Bumi Jawa Barat. Meskipun alat praga JK-Win seperti Baliho dirusak oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggungjawab, para relawan nomor urut 3 ini selalu siap menggantikannya dengan Baliho baru.

Nomor urut 1 Mega-Pro dapat dibilang sangat terlambar dalam pengadaan logistic alat-alat praga seperti Spanduk, Baliho maupun bendera. Namun secara pasti langkah tim sukses Mega-Pro dengan dana yang terbatas untuk Jawa Barat, akhirnya bisa juga menyebar luaskan alat praga itu sampai ke daerah-daerah tingkat dua.

Bahkan saat Cawapres Prabowo Subianto menghadiri undangan Pondok Pesantren (Pontren) di Cikajang Garut nun jauh dari ibukota Kabupaten Garut, spanduk, baliho dan bendera, cukup banyak berkibaran di pinggir-pinggir jalan. Rakyat pun nampaknya cukup antusias menyambut kedatangan mantan Pangkostrad ini.

Melihat persiapan nomor urut 2 SBY-Boediono di Jawa Barat, nampaknya cukup baik di bawah Komando Mayjen TNI (Pur) Iwan Sulanjana yang merekrut sejumlah tokoh sebagai bagian dari Tim Sukses, seperti H.Tubagus Bakti Sudjana mantan Ketua Pemuda Pancasila (PP) Jawa Barat.

Relawan SBY-Boediono, Thomas Sitepu dkk tak segan-segan mengeluarkan dana yang cukup besar untuk mensosialisasikan SBY di kota Bandung dengan membagi-bagikan 0,5 juta kaos SBY kepada Supir dan Kenek Angkot, Tukang Ojek, Pedagang bakso dan Penjual Jamu Gendong, Pedagang Es Krim dan Pedagang Keliling Batagor serta warga penghuni Rumah Susun Sarijadi.

Thomas Sitepu dkk yang mengusung SBY melalui Front Komunitas Indonesia Satu (FKI1) mendapat ijin Polwiltabes Bandung menggelar sosialisasi Pilpres dengan membagi-bagikan kaos SBY, menghibur massa yang hadir dan sekitar 140 personil Polri yang menjaga keamanan dengan musik organ tunggal, doger monyet dan pelepasan kaos SBY berhadiah Rp.5 juta dengan balon gas ke angkasa. Acara di Perumnas Sarijadi Bandung ini luar biasa semarak dan meriah. Sayangnya Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Barat H.Iwan Sulanjana berhalangan hadir karena berada di Cikeas (rumah SBY).

Lain langkah Thomas Sitepu dkk lain pula gerak langkah H.Tb. Bakti Sudjana sebagai salah satu Tim Sukses SBY-Boediono di Jawa Barat. Tokoh Jawa Barat ini memanfaatkan jaringan Forum Rembuk Warga Jawa Barat untuk mendukung SBY-Boediono.

Sayangnya kaos SBY-Boediono dan alat praga lainnya yang masih menumpuk di kantor tokoh terkemuka Jawa Barat ini pada 26/6 belum tersalurkan merata ke daerah-daerah Kabupaten dan Kota di Bumi Parahyangan. Padahal pada 27 Juni 2009, SBY berkampanye di Cirebon. Entah di mana kendalanya.

Namun apa pun langkah upaya pemenangan Tim-tim Kampanye Mega-Pro, SBY-Boediono dan JK-Win di Jawa Barat, kelompok pemuda dan aliran musik Indi  di kota Bandung, tetap merasa tidak mendapat perhatian dari ke tiga Capres-Cawapres tersebut. Padahal kelompok ini terbilang cukup banyak di kota Bandung maupun kota-kota besar lainnya di Bumi Parahyangan.

Kekecewaan mereka bisa dirasakan. Saat Pemilihan Gubernur (pilgub) Jabar maupun Pilkot Bandung, oleh Dede Yusuf (Wagub) Jabar terpilih, mereka dijanjikan akan dibangun gedung khusus untuk pertunjukan musik Indi yang identik dengan musik keras nan bebas. Tapi sampai kini janji gombal itu Cuma Omdo (Omong Doang).

Begitu juga saat Pilkot, Walikota Bandung Dada Rosada yang sekarang terpilih un tuk priode ke dua kalinya, pernah menjanjikan akan merenovasi Gedung Saparua sebagai gedung khusus untuk pertunjukan pagelaran musik Indi. Namun ternyata Dada Rosada pun sama dengan Wagub Jabar, Dede Yusuf. Cuma Omdo aja.

Kelompok komunitas musik Indi ini juga sangat percaya, Capres-Cawapres yang kini berlaga pada Pilpres 2009 ini hanya mengumbar janji-janji kosong. Jika memang, mereka akan lupa dengan janjinya dan kontrak politik yang telah mereka tandatangani. “Paling-paling pemenang Pilpres 2009 itu akan memanfaatkan lagi hutang luar negeri untuk membiayai pembangunan di tanah air,” ujar mereka senada.

Kekecewaan dan kekesalan kawula muda ini syah-syah saja. Pasalnya, selama ini tak seorang pun tokoh di Jabar yang mau mengakomodasikan keinginan mereka untuk memiliki gedung pertunjukan sendiri. Padahal musik-musik mereka sudah memberikan pemasukan devisa cukup besar untuk Negara. Pihak kepolisian di kota Bandung, konon mempersulit pemberian ijin pertunjukan buat komunitas musik Indi ini. Bahkan gedung Dago The House mensyaratkan ijin pertunjukan dari Kepolisian Kota Bandung sebesar Rp.8 juta di luar sewa gedung. “Darimana kami punya uang sebesar itu tanpa sponsor,” keluh mereka.

Oleh sebab itu kelompok komunitas musik Indi ini merasa bersyukur dan berterima kasih sekali, selama ini kalangan TNI-AU atau TNI-AD membantu mereka dengan memberikan ijin pertunjukan di kompleks-kompleks ABRI. Bapak-Bapak dari TNI-AU dan TNI-AD itu juga bersedia duduk sebagai panitia partunjukan. “Alhamdulilah, pagelaran musik Indi bisa tetap berjalan dengan baik. Meskipun di komplek ABRI,” ujar mereka.

Kembali ke gerak dinamis positif maupun negative Pilpres 2009 kali ini nampaknya jargon Lebih Cepat Lebih Baik dari kubu nomor urut 3 JK-Win ternyata lebih popular dan beken ketimbang jargon dari kubu nomor 2 SBY-Boediono maupun nomor 1 Mega-Pro.

Karena itu jika Capres - Cawapres JK-Wiranto berhasil meraih kemenangan pada ajang lima tahun sekali 2009 kali ini sebagai Presiden RI dan Wakil Presiden RI 2009-2014, tidaklah mengherankan. Walaupun dalam dua putaran. Sebab jika satu putaran belum juga menang, dua putaran bukan masalah bagi Jusuf Kalla maupun Wiranto. Semoga amanah dari Allah SWT itu kini untuk pasangan Nusantara ini. Amien !!!