SEKAR TELKOM DUKUNG PEMBENTUKAN TELKOM HOLDING.

Tanggal : 10-10-2008, Kategori : Berita Utama, Politik & Keamanan, Ekonomi & Bisnis

Laporan : H.Erry Budianto.

Bandung-Surabayawebs.com

Serikat Karyawan (Sekar) Telkom mendukung terbentuknya Telkom Holding. Pasalnya, bukan saja akan terbebas sebagai “sapi perahan” partai politik (parpol) yang tengah berkuasa. Tapi gampang melakukan standarisasi management, rotasi eksekutif, efesiensi dan controlling.

“Kelebihan Holding juga bisa melakukan subsidi silang sehingga jika ada anak perusahaan yang negative profit, tidak perlu dilakukan privatisasi. Tapi kekurangannya kelincahan akan berkurang dan profit oriented,” ujar Sekjen DPP Sekar Telkom Amir Fauzi ketika dimintai tanggapannya soal pembentukan Holding Telkom.

Bagi mantan Sekjen DPP Sekar Telkom, H.Gunawan Haris (Garis), jika pembentukan Telkom Holding menggunakan pendekatan PSO (People, Aystem & Organization) approach sebagai pendekatannya. Maka, pertama semua permasalahan kinerja business entity BUMN tersebut akan sangat tergantung dari people (BoD & BoC leadership).

Disamping SO yang digunakan. Dengan demikian, kata Ketua harian Yayasan Pendidikan Telkom (YPT) ini pemilik Menneg BUMN  harus tepat memilih BoD & BoC-nya. Harus dihindari KKN & politisasi.

Ke dua, kelebihan dari BUMN Pertambangan dan Telekomunikasi dibandingkan perkebunan dan perbankan karena ke dua sector itu menjadi perhatian WTO/ global business investor (Kuwait, Irak. Afganistan Cases) karena keduanya merupakan pilar utama pembangunan nasional suatu Negara. “Jika baik pengelolaan sector pertambangan dan telekomunikasi ini maka sejahteralah bangsa itu. Jika tidak akan terjadi sebaliknya,” tandas Garis kemudian.

Kelemahannya, jelas Garis, dengan global regulation (UU Migas, UU Listrik, UU Telekomunikasi), melemahkan kedaulatan Negara untuk mengelola sector ini untuk kepentingan bangsa (keberpihakan terhadap WTO).

Ke tiga, menurut mantan Sekjen DPP Sekar Telkom ini apapun bentuk holding company (HC) bagi BUMN Indonesia (Indonesian Incorporated) maupun khususnya Telkom Holding Company, kinerjanya akan  sangat tergantung dari kemampuan memimpin (profesionalisme & Kompetensi) BoD dan BoC-nya.

Sedangkan Rektor Institut Teknologi Telkom (ITT), Husni Amani, menegaskan, dengan terbentuknya Telkom Holding Company, anak-anak perusahaan akan lebih focus  dalam usahanya. “Dan jelas tanggungjawab terutama dalam pencapaian target bisnis. “Peran induk dalam garis besar arah bisnis dan target-target,” katanya.

Anak perusahaan harus menguntungkan atau potensinya harus bagus, sehingga opportunity bisnis  bisa digali dengan maksimal. Selain itu, tandas Husni Amani, SDM Telkom Holding Company harus bagus enterpreneurshipnya.

Sementara Ketua Umum Sekar Telkom,   Wartono Purwantoi juga menyatakan mendukung terbentuknya Telkom Holding Company (THC). Karena kelebihannya, punya posisi strategis dan mempunyai peluang untuk berperan secara efektif membuat bangsa ini lebih mandiri.

Tapi jika THC tidak dikelola dengan komitment kemandirian bangsa dan BoD serta BoC-nya tidak menyadari posisinya yang strategis, akan  terjadi sebaliknya. Artinya, memang dibutuhan pemimpin yang professional dan memiliki kompentesi untuk memegang jabatan BoD maupun BoC di THC ataupun di anak-anak perusahaan yang dibentuk. “Oleh sebab itu diperlukan scenario pengendalian yang lebih matang. Atau megara ini tidak lagi mempunyai BUMN,” katanya mengingatkan.

Mantan Ketua Umum DPP Sekar Telkom, H.Herry Kusairy, menegaskan dukungannya atas pembentukan Telkom  Holding Company (THC). Akan tetapi dia mengingatkan agar peran Telkom sebagai Agent Development tidak hilang begitu saja karena betul-betul menjadi perusahaan yang profit onriented only. “Disamping itu bantuan berupa Corporate Social Responsibility, hendaknya tetap ada,” harap Ketua YPT ini jika THC terbentuk.

Sementara itu mantan Direktur Teknologi dan Rekayasa Telkom, Andi Siswaka Faisal, mengungkapkan, ide  Full Holding di tubuh Telkom, sudah ada sejak 13 tahun lalu. Artinya, bukan hal baru lagi. Pasalnya, dengan Holding, semua anak perusahaan diberikan kebebasan melakukan kreasi dan inovasi usaha untuk mendapatkan value sebesar-besarnya.

“Tidak seperti Telkom sekarang. Setengah-tengah. Anak-anak perusahaan diberikan target. Tapi kaki dipegang,” tutur Andi kemudian.

Menurut dia, sudah saatnya Telkom menjadi Holding. Hal ini mengingat trend ekonomi global. Apalagi bisnis telekomunikasi di tanah air sekarang ini semakin sengit persaingannya melalui perang tariff head to head. “Namun memang banyak yang gak rela terbentuknya Telkom HC. Karena rejekinya hilang. Pundi-pundi parpol juga bisa kempes dengan berdirinya Telkom HC. “Sebab itu perusahaan Holding harus dipegang oleh orang-orang yang professional dan memiliki kompentesi,” tegas Andi kemudian.