OBOR MERAH PUTIH MAMPIR DI JATIM

Tanggal : 5-08-2008, Kategori : Olahraga & Kesehatan, Daerah, Surabaya

LAPORAN : DHEO FALDI RISWANDA

SURABAYA - SURABAYAWEBS.COM

Perjalanan obor nusantara putih II kemarin siang singgah di Kota Pahlawan.Setelah sempat disemayamkan semalam di Balai Kota Surabaya, pagi ini obor yang disulut dari api yang dibuat suku pedalaman di Merauke melalui proses adat, akan dibawa Imam Makhrus, atlet balap sepeda Jatim.  Selanjutnya, kirab obor putih akan melanjutkan perjalanan menuju ke Mojokerto. “Tadi malam (Minggu) obor putih II ini disemayamkan di makam Bung Karno di Blitar.Tadi (kemarin) pagi, dilanjutkan ke Malang dan Surabaya. Hari ini (5/8) akan dibawa menuju ke Mojokerto,” ungkap Ketua Karang Taruna Jatim Hariyanto kemarin.

Menurut dia, obor putih memasuki wilayah Jatim sejak Selasa (29/7). Banyuwangi adalah kabupaten/kota di Jatim yang pertama kali disinggahi. Sebelumnya, obor putih ini mengelilingi Maluku- NTT-NTB-Bali. ”Besok (hari ini) perjalanan obor putih dilanjutkan ke Mojokerto-Madiun-Pacitan, lantas diserahkan ke wilayah Jateng,” sambungnya. Selanjutnya, dilanjutkan ke Yogyakarta.

Di Yogyakarta pada 17 Agustus mendatang obor putih II akan bertemu dengan obor putih I yang telah diarak mengelilingi Maluku Utara-Sulawesi-Kalimantan- Yogyakarta.Setelah di Yogyakarta, dua obor putih disatukan dan perjalanan dilanjutkan ke Jakarta. Setelah sampai, obor putih akan disatukan dengan obor merah yang disulut dari api abadi di Pula We di Sabang, Nangroe Aceh Darussalam.

Jadilah obor merah-putih perlambang bendera merah putih yang disatukan di Yogyakarta.Setelah diterima Wapres Jusuf Kala, obor ini akan disemayamkan di Departemen Sosial RI Tepat pada 28 Oktober 2008, obor yang mengelilingi 33 provinsi dan 207 kabupaten kota di Indonesia sejak 5 Juni 2008 itu diserahkan ke Menpora Adyaksa Dault.

Ditemui terpisah, Wakil Wali Kota (Wawali) Surabaya Arif Afandi seusai menerima obor nusantara putih II menyebut, obor keliling ini untuk membangun semangat kebangsaan.“ Semangat kebangsaan agak mengalami kemerosotan. Yang dominan, sejak reformasi itu justru persaingan antarkelompok, persaingan antarkepentingan-kepentingan politik,”sebutnya.***