ASING KUASAI MAYORITAS SAHAM OPERATOR TELEKOMUNIKASI DI INDONESIA.

Tanggal : 3-04-2008, Kategori : Berita Utama

Laporan : H.Erry Budianto

Bandung-Surabayawebs.com

Johny Haumahu, AVP News and Information Management PT.Telkom Tbk, mengungkapkan, mayoritas pemegang saham operator telekomunikasi di Indonesia adalah pihak asing. Seperti PT.Indosat 41,94 % sahamnya dikuasai ST Telemedia (STT) anak perusahaan Temasek Singapore, PT.Telkomsel 35% sahamnya dipegang oleh SingTel anak perusahaan Yemasek Singapore, PT.Excelcomindo 66,98% sahamnya dikuasai Telekom Malaysia ™, PT.Natrindo (Lippo Telecom) 95% sahamnya dikuasai Maxis Communication, PT.Cyber Access 60% sahamnya dikuasai Huctchinsons Telecom Hongkong. PT.Mandara Seluler, 24,7 % sahamnya dikuasai Polaris Mobile. Juga tercatat Twinwood Ventura dari Sampoerna Group menguasai 58% saham PT.Mandara Seluler.

Masuknya investor asing itu menurut Johny Haumahu, karena penetrasi telepon di negeri 17.000 lebih pulau dengan 225 juta jiwa penduduknya ini masih sangat rendah dibandingkan Negara-negara lainnya. Contoh Singapore penetrasi fixed phone mencapai 43%, Malaysia 21%, Thailand 11%, China 27%, Jepang 48%, Korea Selatan 46%. Indonesia 7% lebih tinggi penetrasi fixed phonenya dibandingkan India 2% dan Philipina 4%.

Data 2006 penetrasi seluler Indonesia hanya 30% atau sekira 69 juta pelanggan dibandingkan Malaysia 81%, Thailand 55%, Philipina 44%, Singapore 98%, China 33%, Korea Selatan 81%, Jepang 70%. Indonesia lebih tinggi penetrasi selulernya ketimbang Pakistan 19,8%, India 9,5%, Pakistan 19,8% dan Vietnam 19%.

Terungkap juga jumlah operator seluler di Indonesia dengan 225 juta penduduknya tertinggi dengan 7 operator. China dengan populasi penduduknya mencapai 1,3 miliar penduduk hanya memiliki 3 operator seluler, India dengan 1,080 miliar penduduk terdapat 5 operator, Pakistan dengan 154 juta penduduk hanya 5 operator, Philipina dengan 86 juta penduduk memiliki 4 operator, Korea Selatan dengan 48 juta penduduk terdapat 4 operator, Malaysia dengan 25 juta penduduk ada 3 operator, Singapore dengan 4 juta penduduk terdapat 3 operator, Hongkong 7 juta penduduk 6 operator, Taiwan 23 juta penduduk hanya 3 operator.

Sementara PT.Telkom Tbk di mana saham mayoritasnya dikuasai pemerintah 51,2%, asing 44,7% dan 4,15 % dimiliki rakyat Indonesia, data Desember 2006 mengungkapkan menguasai market leader dengan 87,4% market share untuk fixed phone. Sedangkan seluler melalui anak perusahaan PT.Telkomsel (65% saham) menguasai pasar seluler di tanah air 56% dan merupakan operator seluler nomor satu di Indonesia. Di usaha multimedia, melalui Divisi Multimedia dan sejumlah anak perusahaan seperti Metra, Indonusa, Infomedia dan Finnet, dengan market position market challenger with significant growth.

Produk utama Telkom Group saat ini antara lain fixed wireline berupa telepon local, telepon SLJJ, Flexi, seluler, internasional call melalui kode accsess 007 dan 01017. Lalu internet kecepatan tinggi Speddy dan TelkomNet Instan (dial up internet), Pay TV dengan produk TelkomVision, mobile e-mail dengan Ventus, contact center dengan contact center service, Yellow Pages dengan produk Directory Service dan Content Srevice, Satellite Service melalui Satelit Telkom 2 dan Business Solution dengan produk TelkomNet, e-Telkom dan TelkomLink.

Dari data yang ada, terungkap daya tarik asing untuk mengembangkan usaha sector telekomunikasi di Indonesia karena penetrasi fixed wireline hanya 4% dimiliki Telkom sejak puluhan tahun lalu memiliki 8,7 juta pelanggan berbayar. Artinya masih terdapat market 96% lagi. Tapi pihak asing ternyata kurang berminat dengan investasi telepon tetap ini. Pasalnya, investasinya sangat mahal. Karena itu mereka lebih tertarik dengan basis teknologi CDMA di mana saat ini penetrasi marketnya baru 2,6% dikuasai Telkom. Masih terdapat 97,4% market lagi yang bisa digarap.

Seluler dengan 63,7 juta pelanggan, di mana Telkomsel menguasai 56% pasar, penetrasinya masih 28%. Artinya, operator lainnya atau pihak asing melalui Indosat, Excel, Hutchinson, Maxiz dan Sampoerna sangat tertarik karena masih terdapat 72% market lagi. Internet dengan 25 juta pengguna saat ini penetrasi pasarnya baru 11,4%. Jadi masih terbuka lebar bagi operator asing maupun domistik untuk berusaha di sector ini. Untuk usaha jasa broadband Telkom baru memiliki 150.000 pelanggan dan penetrasinya ini hanya 0,1%. Artinya masih terdapat ceruk pasar sebesar 99% lagi.

Sebagai operator telekomunikasi dengan mayoritas saham dikuasai pemerintah, Telkom memberikan kontribusi dividen yang sangat berarti kepada pemerintah. Tahun 2001 Telkom meberikan dividend kepada pemerintah 52% dari dividen sebesar Rp.2,1 triliun, 2002 dari Rp.,3,3 tril;un dividen diberikan kepada pemerintah Rp.1,7 triliun, 2003 dari Rp.3 triliun diuviden diberikan kepada pemerintah Rp.1,6 triliun, 2004 dari Rp.3,1 triliun yang dibagikan kepada pemegang saham diberikan kepada pemerintah Rp.1,6 triliun, 2005 dari Rp,.4,4 triliun dividen diberikan kepada pemerintah Rp.2,2 triliun. Bahkan tahun 2006 dari laba bersih Rp.12 triliun pemerintah mendapat Rp.5,3 triliun. Tahun 2007 lalu diperkirakan laba bersih operatopr terkemuka ini akan mencapai Rp.14-Rp.15 triliun. Untuk pemerintah yang selalu kesulitan APBN-nya, besar kemungkinan akan meminta setengah dari laba bersih BUMN ini.