JERO WACIK: POPULARITAS BOROBUDUR BERKURANG AKIBAT BANYAK PANTANGAN PERTUNJUKAN

Tanggal : 2-08-2007, Kategori : Berita Utama, Seni & Hiburan

LAPORAN : SALIM

JAKARTA - SURABAYAWEBS.COM

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menyesalkan  opini baru yang diusung New World Open Corporation (NWOC) yang menghilangkan Candi Borobudur dari daftar salah satu keajaiban dunia akibat banyaknya pantangan. Ia mensinyalir, salah satu penyebab hilangnya Borobudur dalam  daftar keajaiban dunia versi NWOC karena Borobudur miskin  publikasi.

Jero mengungkapkan hal tersebut saat membuka Worshop  Peningkatan Pemahaman Wartawan terhadap TSA dan VIY 2008 di Jakarta, Kamis (2/8). Dalam kesempatan itu, ia mengatakan daftar 10 NWOC yang masuk tujuh keajaiban dunia, Acropolis di Yunani, Kota Kuno Chichen Itza Suku Maya di Meksiko, Coliseum di Roma, Menara Eiffel di Paris, Tembok Besar di China, reruntuhan Suku Inca Machu Picchu, Petra di Yordania,patung di Pulau Paskah, Stonehenge di Inggris, dan Taj Mahal di India hanya satu versi yang dibuat berdasarkan SMS dan kiriman email.

Sementara penetapan Borobudur sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia sudah diakui Unesco untuk selama-lamanya. “Tidak usah risaukan daftar baru NWOC, karena Unesco yang berhak menetapkan Borobudur satu dari tujuh keajaiban dunia,” katanya menjelaskan.

Bahkan menurutnya, jika sampai Borobudur hancur akibat gempa atau termakan usia hingga satu batu saja masih masuk dalam tujuh keajaiban dunia. Namun demikian, ia juga menjelaskan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh terlena dengan peringkat Unesco itu tapi tetap harus berupaya terus menerus mempopulerkan Borobudur.

Untuk itu, ia mengatakan sangat menyayangkan adanya sejumlah pantangan yang ditetapkan jika akan mempopulerkan Candi Borobudur ke mata dunia. Menurutnya, pada saat akan dibuat konser besar di Borobudur dengan menghadirkan para bintang dunia ternyata mendapat hambatan karena adanya sejumlah pantangan.

Demikian juga pada saat akan dibuatkan lighting di setiap sudut Borobudur agar lebih memikat pengunjung dari manca negara, lagi-lagi dilarang. Dengan demikian, menurutnya perlu  adanya kesepahaman semua pihak agar Borobudur kembali dikenal dunia sehingga tidak mudah bagi setiap lembaga survey menghilangkan daftar Borobudur.***