Pencarian
Politik & Keamanan
- TELKOM TAMBAH KECEPATAN SPEEDY UNTUK KEPUASAN PELANGGANNYA. (27-07-2010)
- SAMBUT LEBARAN, TELKOM PERKUAT JARINGAN BTS UNTUK KEPUASAN PELANGGAN. (26-07-2010)
- Imbangi Peningkatan Layanan Data & Internet TELKOM Percepat Pembangunan Serat Optik (22-07-2010)
Ekonomi & Bisnis
- TELKOM TAMBAH KECEPATAN SPEEDY UNTUK KEPUASAN PELANGGANNYA. (27-07-2010)
- TELKOM GALAKKAN INTERNET SEHAT DAN AMAN (27-07-2010)
- SAMBUT LEBARAN, TELKOM PERKUAT JARINGAN BTS UNTUK KEPUASAN PELANGGAN. (26-07-2010)
Olahraga & Kesehatan
- MASYARAKAT DATANG KE DOKTER GIGI SETELAH SAKIT (14-07-2010)
- MENSOS: UANG SITAAN KASUS NARKOBA UNTUK REHABILITASI KORBAN (12-07-2010)
- PRUDENTIAL SYARIAH, METODE MERAWAT KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT (7-07-2010)
Berita Daerah
- PILKADA DEPOK, PERTARUNGAN DIANTARA INCUMBENT, Kategori:Berita Utama, Daerah (28-07-2010)
- Gagal Panen Picu Kenaikan Harga Cabai, Kategori:Ekonomi & Bisnis, Daerah, Yogyakarta (14-07-2010)
- MASYARAKAT DATANG KE DOKTER GIGI SETELAH SAKIT, Kategori:Olahraga & Kesehatan, Daerah, Yogyakarta (14-07-2010)
SENI PESANAN DI DKJ
LAPORAN : M.FARRAS.S
JAKARTA-SURABAYAWEBS.COM
“. Judul bernada satire itu menjadi tema pameran lukisan koleksi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang berakhir pada 3 April kemarin. Meskipun masih bisa diperdebatkan, tema lukisan itu jelas menarik perhatian. Tetapi Januari lalu, DKJ juga menggelar pameran lukisan yang temannya tak kalah sinis, “Seni Pesanan”.
Dunia seni lukis Indonesia memang pernah mengalami masa “jaya”. Sebutan itu muncul bukan hanya dalam soal kualitas tapi juga adanya ruang perdebatan mengenai karya lukis itu. Perdebatan bukan hanya menyangkut gaya lukis atau kecenderungan seni lukis.
Lebih dari itu, perdebatan malah melebar hingga menyentuh masalah soal ada tidaknya seni lukis Indonesia. Masalah tersebut yang mencuat dalam diskusi yang diselenggarakan DKJ belum lama ini.
Adalah Oesman Effendi yang pada 1969 pernah menggegerkan dunia seni lukis lewat pernyataannya yang menghebohkan. Pelukis itu mengatakan, sebenarnya seni lukis Indonesia tidak ada. Daya hentak sikapnya itu masih terasa hingga kini. Sebuah buku yang diterbitkan DKJ dalam kaitan pameran lukisan koleksi DKJ dan Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) malah diberi judul Seni Lukis Indonesia Tidak Ada.
Diskusi yang dihadiri kalangan pelukis, pengamat dan penggemar seni lukis mencatat kemarahan pelukis saat Oesman menyatakan pendapatnya. Beberapa pelukis malah mendesak Oesman menarik kembali ucapannya karena dinilai tidak menghargai seni lukis Indonesia dalam sejarah.
Ketua Komite Seni Sastra DKJ, Bambang Bujono mengatakan, pernyataan Oesman memang menyengat banyak kalangan. Hal tersebut terbukti dari dampak luas pernyataan sang pelukis tersebut. Perdebatan bukan hanya melibatkan para pelukis. Kalangan cendekiawan bahkan politisi ikut serta dalam perdebatan panas tersebut.
Bisa dimengerti pula jika perdebatan memasuki ranah politik karena Oesman memang menyentuh soal nasionalisme dalam pernyataannya. Pelukis tersebut dalam berbagai kesempatan senantiasa menyatakan bahwa, lukisan Indonesia memang terlalu terpengaruh dunia luar.
Lepas dari pengaruh tersebut, Oesman mengakui pascakemerdekaan, para pelukis yang sebelumnya ikut serta dalam revolusi kemerdekaan mampu menciptakan karya lukis menawan. Lukisan yang muncul setelah kemerdekaan lebih spontan, murni dan segar.
Oesman terbukti mampu mempertahankan sikapnya yang keras dan sinisnya tersebut. Pada 1977, Oesman kembali menerangkan mengapa ia menyebutkan bahwa seni lukis Indonesia sebenarnya tidak pernah ada.
Pingitan
Menyinggung masalah pameran lukisan koleksi DKJ-PKJ, Bambang mengharapkan pameran tersebut diharapkan mampu memberikan suguhan menawan bagi penggemar seni lukis. Berbeda dengan pameran lukisan tunggal pelukis masa kini, pameran kali ini mempunyai arti penting bagi pemahaman sejarah seni lukis. Pameran tersebut sekaligus membantah anggapan bahwa koleksi lukisan DKJ-PKJ hanya menjadi karya pingitan yang tidak bisa dilihat masyarakat.
Bambang mengatakan masalah seni lukis Indonesia tidak ada mungkin penting, mungkin tidak. Yang jelas persoalan itu pernah menjadi polemik di kalangan seni rupa, seniman dan cendekiawan. Dengan demikian patut dikaji, seberapa besar pengaruh polemik itu pada seni rupa Indonesia.
Hal itu, kata Bambang, bisa diukur dari adakah sejumlah seniman yang sering diundang mengikuti pameran di berbagai negara? Adakah karya mereka dikoleksi beberapa museum di beberapa negara? Pertanyaan itulah yang menjawab seni lukis Indonesia ada atau tidak.
Hafiz, kurator pameran kali ini menambahkan, pameran diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai perjalanan seni lukis Indonesia. Jejak-jejak karya anggota Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia (Persagi), dampak perdebatan antara Oesman dengan penentangnya pada lukisan hingga karya para pendukung Gerakan Seni Rupa Baru, bisa disaksikan. Jejak sejarah tersebut diperkuat dengan kutipan pemberitaan media massa, buku dan masalah para seniman dari berbagai kurun waktu.
Berita Utama Terbaru
- PILKADA DEPOK, PERTARUNGAN DIANTARA INCUMBENT (28-07-2010)
- TELKOM TAMBAH KECEPATAN SPEEDY UNTUK KEPUASAN PELANGGANNYA. (27-07-2010)
- TELKOM GALAKKAN INTERNET SEHAT DAN AMAN (27-07-2010)
- SAMBUT LEBARAN, TELKOM PERKUAT JARINGAN BTS UNTUK KEPUASAN PELANGGAN. (26-07-2010)
- EDDY KURNIA : TELKOM TIDAK PUNYA SISA KEWAJIBAN APAPUN KEPADA PENSIUNAN. (26-07-2010)
- Imbangi Peningkatan Layanan Data & Internet TELKOM Percepat Pembangunan Serat Optik (22-07-2010)
- TELKOM Tingkatkan Fasilitas Telekomunikasi Di Pulau-Pulau Terluar Indonesia (22-07-2010)
- TELKOM Meraih Penghargaan “Best Managed Company 2010″ Dari Majalah Finance Asia Hong Kong (22-07-2010)
- 2020 ERA GLOBAL TDK MEMBTASI WARGA DUNIA BERINVESTASI (22-07-2010)
- BULAN PENUH BERKAH DISAMBUT HARGA SEMBAKO PADA NAIK (21-07-2010)
